Wafeya

Mata ke bumi, hati ke langit

Sunday, January 31, 2010

Ketika Salji Bertasbih


Aku suka melihat alam. Seperti burung-burung ini; yang berkumpul bertasbih ketika tebalnya salju, tidak pernah sekali mengingkari sunnatullah. Singgah melewati kedinginan di sini sebelum berhijrah merapati iklim yang suhunya tidak akan membuat badan gigil kesejukan. Ah, salji dan burung - mereka tidak pernah membantah! Melihat mereka buat aku terkagum seketika. Pantas merenungi diri - yang sering jerjal dengan kerenah dan rencam bermain jukstaposisi - duhai, tak punya apa pun! Alam Tuhan ini indah. Sungguh. Tidak mampu terlukis pun dengan pastel-pastel warna air di atas sekeping kanvas putih. Tidak akan persis. Apa lagi di atas cantuman-cantuman statik tanpa rasa dan jiwa dalam 10 Megapixels ini. Ah, Subhanallah!


Gargarin Park, Simferopol,
Ukraine.


Kisah-kisah ketika salji bertasbih,

Thursday, January 07, 2010

Di Perut Nun

Terkesan dengan sajak ini. Lalu saya ambil dan saya kongsi dengan kalian di sini.
(Akhir-akhir ini agak penakut menulis sajak - dicoret dan dipadam)

Di Perut Nun

Pada dinding putih, ada waktu yang tergantung

berlari, tak pernah jeda walau untuk berpesan,

demi aku, manusia dalam kerugian.

Di luar, ada rintik yang menyapa gersang tanah,

aku termangu, Mikail masih di situkah?

Anugerah untukku?

atau aku mesti terus menunggu

setelah doa-doaku tercicir

tiris dari bakul ibadah yang rompong.


Entah berapa lama, kali terakhir kumembilang titis hujan

dan mengutip butir jernih, buat dihimpun menjadi sekolam wudhu.

Pun, sekolam itu, aku masih sangsi, pergikah segala dosa semusim leka

seperti daun gugur meluhurkan sunah Allah?

Seorang umat, yang bersinar dan dikenali, akukah?

Atau gelap ini abadi? Gelisah ini membawa aku ke perut Nun

Dari situ, ada rintih Yunus yang kembali,

Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau,

Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.


Gelap ini; Yunus, aku dan sesiapa, tak punya siapa kecuali Tuhan.

Balam-balam malam ini, aku sendirian

kehilangan kasih-Mu. Tuhan, di hadapan pintu-Mu

aku berdiri.


Hafez Iftiqar,
15, Kings Court, Oakleigh East, VIC, Australia.


Dipetik dari blog hafeziftiqar



Di hujung kembara tak ada lelah - adalah kembara yang terbaik,