Wafeya

Mata ke bumi, hati ke langit

Saturday, June 26, 2010

Pesan

Ini, puisi bernas dari seorang adik jauh yang amat kucintai sempena hari graduasiku. Puisi sarat pesan dan ingatan hingga serasa beratnya tanggungan kini menjadi ringan nian apakala menyelami siratan maksud yang telah sedia tersurat. Terima kasih, sasalim.



Pesan

kanda sang ratu yang tunduk bersama Sulaiman,
adinda yang tak berapa matang datang bertamu,
apa benar dunia maya bakal ditinggalkan setelah meneroka alam baru?
moleknya teruskan wujud di sini,
kerana adinda lihat ramai yang masanya bagai intan berlian masih lagi di sini memberi manfaat.

kanda sang ratu yang terpana dengan keindahan istana Sulaiman,
adinda yang tak berapa lurus ini ingin berkongsi,
pernah adinda baca satu peringatan,
jadikan DR sebagai daieyah Rabbaniyah terlebih dahulu,
sebelum diseru sebagai lambang kebanggaan umat.

kanda sang ratu yang sedar khilaf lantas bersujud kepada Tuhan,
adinda yang tak berapa maju ingin menyatakan,
usah kanda risau akan masa hadapan,
kerana yang mencorakkannya adalah warna hari ini,
maka teruskan melakar warna pelangi di langit tinggi,
Dia sedia menghulur tangan dengan pasti.

kanda sang ratu yang pekerti jiwanya menawan,
adinda yang tak reti berkata-kata ini ingin menyeru,
seluruh alam sujud syukur dengan keteguhanmu,
meskipun bergelar 'segulung ijazah' di dunia,
ingatlah dunia itu ladang tuaiannya akhirat,
maka janganlah singgahsana indah menghalang kanda sujud kepada-Nya.

kanda sang ratu yang dianugerahkan kemuliaan dari-Nya,
adinda yang putus fiusnya ini tidaklah reti bermadah pujangga,
mungkinkah kanda boleh meminta sang pujangga menyusun kata,
adinda menyulam jari yang sepuluh andai ada gores kecil di hati,
ikhlas dari hati, tautan ini lebih mempesona dari segalanya,
maka terima kasih untuk itu tidak pernah mampu dikira.

sasalim
2010.


Duhai, perlukah kiranya kumembalas? Seperti tak mampu rasanya menandingi tulus bicaramu. Pesan yang datang dari hati. InshaAllah, kan sampai dan terus kekal di hati.



Ada garis-garis halus tercantum di kedua hujung matanya,

Thursday, June 17, 2010

Cukup satu waktu untuk satu cinta

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar.


Picture credit to .jpg

Alhamdulillah, telah selesai imtihan terakhir di bumi asing, Ukraine ini. Sujud syukur atas segala nikmat-Mu Ya Allah. Atas sebuah perjalanan yang telah Engkau tentukan sejak dari awal sehingga ke hari ini; perjalanan yang ditemani air mata, terkadang gelak tawa, jua keluh kesah, kekecewaan dan kemenangan, perjalanan yang tanpa sedar sedikit-sedikit mendewasakan dan mematangkan seorang insan kecil yang tidak punya apa-apa ini.

Gabungan rasa entah apa hadir menyelubungi. Ada rasa kekosongan yang dingin hening mengisi sudut hati - sunyi - yang terdengar hanya suara alam bertasbih selang-seli sayup-sayup beralun nun di hujung horizon. Alam yang tak pernah luput rasa cintanya kepada Yang Maha Pencipta. Di luar, kasih sayang Tuhan melimpah ruah - titis-titis hujan lebat mencurah - sejuk, menyamankan dan aku, jiwa penuh rasa sepi dan hina-dinanya memeluk erat-erat rahmat Tuhan ini tanpa segan silu lagi. Terima kasih Tuhan, kerana tak pernah membuat aku rasa keseorangan. Biar sedetik pun. Kau sentiasa hadir menemani.



Dan entah bila, tahiyatku bergetar. Perlahan-lahan kotak jiwa dihenyak rasa sebak - terasa hangatnya rindu. Cinta pun hadir semakin membara-bara. Bertuturlah ia menyebut satu nama. Semoga tidak terpadam sehingga akhir hayat. Selamanya cintaku hanya untuk-Mu. Semoga tetaplah aku di jalan-Mu, ya Allah. Cukup satu waktu untuk satu cinta.

Tuhan, kerana Engkau terlalu indah - aku menangis sepuas-puasnya.

*******
"Di sekitar kita ada kawan yang selalu hadir sebagai pahlawan". Edensor.

Dedikasi buat kalian yang bergelar kawan, teman, rafiq dan sahabat di mana jua berada, terima kasih atas sokongan dan doa yang tak pernah putus-putus, dalam nyata mahupun dalam diam sepanjang mengenali diri ini. Untuk kalian teman-temanku, sebahagian kebahagiaan ini ingin kukongsikan - tanpa kalian barangkali kehidupan ini hanyalah jalan tandus tanpa pepohonan rendang yang meredupkan dan tanah gersang tanpa wadi yang menghilangkan dahaga kala kepenatan. Terima kasih kerana sudi hadir menceriakan jalur-jalur hidupku di sepanjang perjalanan ini. Aku pohon, semoga kalian beroleh rahmah dan keberkatan-Nya sepanjang kehidupan kalian. InshaAllah. Kalian, terima kasih, ya! Sungguh!




Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang,

Thursday, June 10, 2010

Sambil-sambil cicah biskut dalam teh...

Petang-petang begini dengan cuaca begitu indahnya memang tidak memungkinkan ulangkaji berlaku dengan bersungguh-sungguh. Entah telah musim sayf ataukah masih musim rabi'. Angin tidak bertiup dan mentari memancar galak. Mawar berkembang riang. Warna-warninya mengusik indera yang memerhati. Di sini pepohonan mawar tumbuh bagai lalang. Tidak perlu dijaga, tumbuhnya begitu sahaja. Mawar liar barangkali. Pun begitu, alangkah cantik dan anggunnya mawar liar memenuhi halaman dengan pelbagai warna garang. Merenung sedemikian lama, menyentuhnya belum berani, bukan takut tercucuk duri, tetapi bimbang digelar perosak keindahan alam oleh tuan punya halaman. Lalu, bertuahkah menjadi sang mawar? Entah.

Petang-petang begini mahu tenang-tenang dahulu sebelum menyambung kembali pembacaan. Justeru, suka-suka mahu kongsi di sini, sembang-sembang berisi penuh bijaksana antara Abu Qubaisy dan murid-muridnya,

"JANGANLAH kalian beribadat karena menginginkan masuk surga. Dan jangan pula kalian beribadat karena menghindari neraka," kata Abu Qubaisy membuat beberapa muridnya terhenyak kaget.

Ketika membuka majelis taklimnya sore itu, guru besar yang disegani tersebut bukan menyampaikan kata pembuka, tetapi langsung menyilakan murid-muridnya mengajukan masalah atau topik yang mereka inginkan dibahas di majelis itu. Salah seorang dari mereka kemudian bertanya mengapa beribadat itu sering terasa berat. Untuk itulah guru besar tersebut memberikan jawaban yang membuat sebagian besar muridnya terhenyak kaget.

"Tapi bukankah Allah yang Maha Pemurah itu menyediakan surga untuk orang-orang yang beribadat dengan baik, Tuan?" tanya murid lain dengan kalimat mengandung sanggahan.

"Benar. Tetapi bila Dia yang Mahakuasa itu memasukkan orang-orang yang beribadat ke dalam neraka, ke mana dan kepada siapa orang dapat memprotes?" ujar Abu Qubaisy dengan kalimat yang kembali mengagetkan beberapa muridnya.

"Karena itu lakukanlah ibadat dengan niat memenuhi perintah-Nya saja. Dengan niat mendekatkan diri kepada-Nya. Bukankah sufi besar Al-Adawiyah berdoa agar Allah tidak masukkannya ke dalam surga bila ibadatnya dengan tujuan itu. Kata Al-Adawiyah, dia beribadat kepada Allah karena cinta. Ketahuilah Allah mencintai orang yang mencintai-Nya, dan para pencinta akan memberikan apa pun miliknya untuk yang dicintainya," kata mahaguru yang luas ilmunya itu sambil senyum.

"Lalu apa pula salahnya bila seseorang beribadat dengan maksud agar tidak dimasukkan ke dalam neraka?" tanya murid lain dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Orang yang beribadat karena menginginkan surga, pasti takkan beribadat bila tidak ada surga. Demikian pula dengan yang takut kepada neraka, takkan beribadat bila neraka tidak ada. Padahal Allah Swt menyatakan Dia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Nya," kata Abu Qubaisy seraya mengakhiri taklim. Murid-murid yang mendengarnya pun mengangguk-angguk paham.

Yuk, kita kejar redha Allah!

******



Kira-kira pitih, kenapa macam tinggal sedikit sahaja ni, rasa macam baru semalam je bawa keluar. Haih, dunia, dunia. USD jatuh, Euro jatuh. Hurm...


Ada kaitan... kot? Entah.




Menghitung hari,

Sunday, June 06, 2010

Sejadah Panjang

Serius. Memang sukar memulakan pembacaan apabila tarikh peperiksaan masih jauh. Dua belas hari lagi. Tiga mata pelajaran sekali serentak dalam sehari. Maka sepatutnya berbaloi sudah masa yang diberi untuk ulangkaji ketiga-tiganya. Tetapi menghadap nota seperti menghadap kertas kosong. Ah, sukarnya menetapkan hati. Sedang deretan nota-nota yang menanti untuk dibelek sangat mencungkil rasa bersalah setiap kali terpandangkan. Rasa bersalah terhadap waktu, rasa bersalah terhadap ilmu, rasa bersalah terhadap kewajaran masa depan dan tentu rasa bersalah paling agung terhadap Tuhan; yang memberi pinjam segala. (Rasa bersalah mungkin tidak layak digunakan bila berhadapan Tuhan. Rasa berdosa. Ya, itu setepatnya. Allah tuhanku, ampunkan aku atas masa-masa yang terbazir begitu sahaja. Amin)

Tolak ketepi sebentar segala nota. Pejam mata dan tarik nafas panjang-panjang. Gaya seperti sudah banyak sangat membaca walhal helaian kertas yang bertanda masih senipis kertas tisu. Hakikat. Telan dalam-dalam hakikat ini. Biar rasa pahitnya berdesing sampai ulu hati. Waktu itu, barangkali baru sedar, betapa kelat pahitnya yang bernama hakikat. Pahit kerana dalam sedar tahu betapa lemahnya iman. Sedang kesusahan yang dihadapi hanyalah pada menghabiskan pembacaan. Alahai, apa sangatlah mahu dibanding dengan kelaparan, kebuluran, kemiskinan, penyakit melarat menunggu mati, dan tanah air dirampas orang? Ya Allah hai, jauh nun ibarat kerak bumi dengan galaksi bima sakti. Hakikat.

Mudahnya bermain kata di sini. Sebenarnya mahu sedapkan hati. Kerana tidak bisa meneruskan membaca, maka barangkali mungkin bisa menulis. Walaupun tiada apa yang hendak dibicarakan, sekurang-kurang biar huruf-huruf ini menyusun dirinya sendiri agar segak berbaris memberi patah-patah kata yang punya makna dan bererti yang kalaupun tidak tersampai di hati, sekurang-kurang ia terhenti di akal untuk difikir, disimpan dan diingat. InshaAllah. Ini, bacaan untuk diri sendiri.

******************
Membaca catatan teman-teman senior tentang kehidupan setelah bergelar housemanship, terasa gelap masa depan. Seakan hilang segala cahaya kebahagiaan. (Wah, wah melampau sungguh hiperbolanya di sini) Perhatian sangat-sangat, kata-kata ini adalah kata-kata orang yang tidak berusaha bersungguh-sungguh jadi rasa sangat takut untuk hadapi hari depan dengan berani.

*Er, tiba-tiba ada orang angkat tangan perlahan-lahan dengan takut-takut*

Tak
apa Dr. Balqis, awak boleh turunkan tangan awak.

Dalam Al-Hadid ayat ke-21, telah cantik Allah berfirman yang bermaksud,

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.

Ayat ini merupakan sindiran pedas dan peringatan Allah untuk mereka yang menjalani kehidupan untuk hidup. Allah SWT pada ayat ini menyatakan satu kitaran kehidupan yang sangat indah, sebuah hakikat kehidupan, realiti kehidupan, makna kehidupan bagi mereka yang hidupnya sekadar untuk hidup.


Perhatikan bagaimana Allah mulakan dengan perumpamaan dunia sebagai permainan. Cuba kita lihat anak kecil, apa erti kehidupan pada mereka? Bagi mereka, semua yang dilihat adalah permainan. Apa sahaja yang tidak dibuat main, segala pasir, pisau pun dibuat main. Nah, ini maknanya perumpaan Allah, dunia itu hanya sekadar mainan seperti anak kecil menanggapi objek-objek yang berada di sekelilingnya.


Kemudian lanjut usia, meningkat remaja. Apakah makna hidup bagi majoriti remaja hari ini? Bukankah hidup bagi mereka untuk berseronok-seronok sahaja? Perhatikan frasa kedua yang Allah gunakan setelah la’ib, Allah letakkan lahwun iaitu sia-sia. Inilah kitaran kedua hidup manusia, sia-sia dan melalaikan. Hidup merempit, melepak, buang masa dan berfoya-foya.

Kemudian meningkat usia lagi, Allah nyatakan kitaran seterusnya, wa ziinah. Apa makna kehidupan bagi mereka yang telah meningkat dewasa, yang sudah bekerja, menjadi usahawan, doktor, majistret, lawyer, ahli muzik dan sebagainya? Ziinah, iaitu perhiasan. Inilah kitaran ketiga kehidupan manusia iaitu dunia sebagai perhiasan; mula berhajat untuk memiliki kereta mewah, barang kemas, rumah-rumah yang indah, pakaian-pakaian yang cantik. Jika itu yang difikirkan sebelum kita bekerja, maka kita sudah masuk dalam kitaran ini.


Kemudian setelah berkahwin dan berkeluarga, semakin meningkat usia, apa makna kehidupan bagi golongan umur ini? Watafakhuru bainakum- bermegah-megah antara kamu serta, watakathurun fil amwaali wal aulaad - berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Hidup hanya sekadar untuk mengumpul harta dan berbangga-bangga dengan pencapaian anak. Inilah kitaran keempat kehidupan manusia, tiada lain hanya berbangga-bangga dengan pencapaian duniawi.


Makanya ini kitaran kehidupan bagi mereka yang sekadar hidup untuk hidup, yang Allah umpamakan sebagai tanaman yang subur pada mulanya, tetapi kemudian hancur kerana semuanya hanya sementara sahaja.


Akhirnya di pengakhiran ayat, Allah menyimpulkan kehidupan dunia yang kitarannya begini, hanyalah sebagai mata'. Apa itu mata'? Imam Malik merantau ke kampung pedalaman untuk mencari makna mata' bagi masyarakat Arab asal. Akhirnya beliau temukan, apabila seorang budak menjerit memberitahu padanya, “hadza mata', hadza mata'”, seraya menunjuk ke arah sisa-sisa buangan sampah sarap yang busuk.

Nah! Inilah hakikat dunia pada pandangan Allah, bagi manusia yang menjalaninya mengikut kitaran seperti di atas. Kesenangan yang menipu.

Maka apa kena mengena dengan masalah Dr. Balqis tadi?

Jika hidup hanya sekadar untuk memenuhi syarat-syarat kehidupan – belajar bersungguh-sungguh, bekerja berhempas pulas demi mencapai expectation tinggi manusia, maka semua perkara menjadi sukar dan payah kerana apabila tidak dapat melepasi semua expectation tersebut, diri menjadi sangat mudah putus asa dan hilang harapan. Mengejar dunia yang rupa-rupanya hanyalah sampah sarap yang busuk.

Lantas Allah memberikan solusinya dalam surah yang sama ayat seterusnya,


“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”.


Kita lihat, Allah memotivasikan kita dengan seruan-Nya - berlumba-lumbalah. Allah tidak menyeru kita supaya merangkak atau berjalan, tetapi Allah menyeru kita supaya berlari! Bersegara, berlumba-lumba dalam maraton ini, menuju kepada kehidupan abadi, hidup untuk mati. Inilah kehidupan yang sebenar, kehidupan untuk mati. Hidup untuk syurga. Keluar dari kitaran dunia yang digelari Allah sebagai sampah, tetapi justeru, masuk ke dalam kitaran hidup dunia dengan perlumbaan mendapatkan keampunan dari Allah dan syurga seluas langit dan bumi. Subhanallah. Terbaikkan? Terbaiklah.


Bagaimana?


Dengan mengabdikan diri, segala pekerjaan dan kehidupan mencari redha Allah. InshaAllah, kerja bukan kerana manusia tetapi kerana Allah. Biar kita bekerja dan hidup, menjadi Rahmatan lil A'lamin. Biar pekerjaan kita kelak menjadi sejadah panjang pengabdian kita kepada Allah. Amin, ya Robb.




Faham Dr. Balqis?


Alhamdulillah. Syukran.


Aiwah. Khair. Ha, bolehlah sambung ulangkaji nota, ya? Banyak lagi belum bacakan? Cukup-cukuplah menghadap monitor ini dan terbazir masa begitu sahaja. Buat rosak mata sahaja. Usahakan untuk lebih rajin, konsisten dan istiqamah. InshaAllah. Selamat berjaya dalam peperiksaan. Bittaufeeq wannajah, InshaAllah.

************************


“Shaytan will come at you with that which you love, even if it is the deen” –Abu Hafsa-

Wallahua’lam.



Oh. PR, PR. Upgrade your PR please, doc. You are working with human, not machine.


Catatan kecil editor: Kasihan Balqis, menjadi watak yang sangat mengecewakan dalam entri kali ini. Doakan supaya beliau pulih dari kemalasan yang kronik. Dia ini memang perlu belajar seni bercinta dengan Tuhan. Mudah-mudahan. InshaAllah.



Menghitung sisa-sisa akhir hidup di Ukraine - membaca catatan adik Haniff tentang perantau - terasa sangat sekejap masa berlalu. Allahuakbar.

Thursday, June 03, 2010

Siap-siaplah



Lega. Susun buku-buku dan nota-nota untuk peperiksaan seterusnya. Meja sudah separuh bersih. Cerah. Sebelum nanti menjadi huru-hara semula seperti muka buku pasca serangan militan Israel ke atas Mavi Marmara. Semalam dan kelmarin, kemas kini status penuh caci maki untuk Israel. Hari ini, bersih. Adalah sebaris dua yang tinggal - ingat-mengingatkan - memperbaharui kemas kini situasi semasa yang berlaku di sana. Kemudian, jadi tiada langsung. Kembali seperti 'biasa-biasa'. Seakan perjuangan ini semua bermusim. Lalu kita wajar bertanya, demi agamakah atau apakah, segala laungan kita itu?

Boleh tanya hati sendiri. Sila.

Tahun lepas, sewaktu Gaza diserang hebat jet pejuang Air Force, saya dan teman-teman diasak imtihan pertengahan semester. Dan doa menjadi lebih panjang; untuk diri juga untuk saudara-saudara di Gaza, semangat jadi lebih membara; mereka berjuang, kita juga harus berjuang, mereka berjihad menumpah darah, kita berjihad juga menumpah dakwat bencah. Tahun ini, kebetulan apakah jua - Gaza, saya dan imtihan?

Tidak perlu bersoal panjang, cukup satu soalan - untuk apakah sebuah negara haram seperti Israel itu wujud?

Dari kejatuhan khilafah Uthmaniyyah sehingga kini, satu jawapan cukup pedas akan kita temui.

Untuk kita.

Ya, untuk kita bisa menjadi seperti Umar Al-Khattab. Seperti Salahuddin Ayyubi. Seperti Al-Fateh. Seperti Tariq, seperti Abu Ubaidah dan seluruhnya yang ikut berjuang atas agama Allah. Atas nama Allah.

Bukan calang-calang, deh!

Sebab itu musuh juga bukan calang-calang. Israel. Si kera yang degil.

Kita bukan tidak punya kekuatan. Andai dikumpul sekalian umat dan sumber tenaga, InshaAllah kita mampu menang. Tetapi, kita telah kalah sebelum berlawan, kalah dengan musuh dalaman - diri sendiri; kuasa, hawa nafsu dan syaitan.

Selagi belum mampu membawa diri, mimpilah untuk membawa panji-panji.

Maka, benarlah kata-kata seorang aktivis Indonesia yang ikut berjuang atas Mavi Marmara, Santi Soekato;

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan - bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.
Teman, perjuangan ini bukan bermusim, bukan hanya emosi dan sensitiviti, perjuangan ini panjang, berterusan dan jauh. Jalannya payah, geraknya susah tapi yakinlah, janji Allah itu pasti.

Siap-siaplah.

Allahumaj’alni minat tawwabiin…
Allahumaj’alni minal mutatahirin…
Allahumaj’alni min 'ibadikas-salihin…




Bukankah Allah telah mengatakan bahawa tanah sekeliling Al Aqsha itu diberkahi-Nya? Terasa betul, bahawa salah satu keberkahannya adalah ia menyatukan kita.