Wafeya

Mata ke bumi, hati ke langit

Sunday, January 30, 2011

Entri Retrospektif



Sejak Subuh tadi, hujan masih belum berhenti
Kabus masih membungkus
Perbukitan masih sepi
Ada kisah yang panjangkah?

Begitu

(Apokalips hati)


Tiga bulan. Dan esok-esok pun akan hadir sehingga sampai waktu dinobat sang pengamal perubatan yang unggul. Sehingga saat itu, apa yang paling teruji? Waktu? Tenaga? Harta? Kesabaran? Kekuatan? Ketokohan? Kredibiliti? Pengetahuan?

Tidak.

Melainkan yang satu itu.

Sungguh, sakit itu paling tenat sekali. Sesak, benar dia sesak. Sempit, lebih sempit dari salur pernafasan si penghidap lelah yang kronik. Lumpuh, dia lumpuh. Dan saraf-saraf yang mati itu tidak bekerja lagi, berdiam di tempatnya. Menyepi, gelap, terlindung dari cahaya. Iya, sudah matikan?

Ada bahagian-bahagian yang tersumbat itu, pecah memecah berlari-lari sehingga ke terowong-terowong paling kecil, menyulitkan lagi pergerakan. Dan cahaya pun tidak sampai. Putus terhenti atau tidak mahu sampai lagi - dia tidak tahu.

Begitu Tuhan menguji.

Malap, semakin malap. Padam dan terus lenyap (?)

Allah!!!!

Melainkan yang satu itu.

Iman.

****************

In front of God,
You don’t hide the tears,
as the flow is a beauty that nothing compares,
But, you do fear too.

Of betraying yourself.


****************

+ Lain yang dirancang, lain yang menjadi.

- Sudah-sudahlah.

+ Pergi belajar.

- Baiklah-baiklah.



Ah, nefrologi - hidup tanpa buah pinggang sendiri memang memedihkan.