Wafeya

Life is a serious matter.

Saturday, May 16, 2009

Guru pembina negara bangsa!

Sering dalam kehidupanku aku menemui ungkapan guru itu ibarat lilin, menerangi insan lain sedang dirinya mencair dek kepanasan haba si api. Memang guru itu pekerjaannya luar biasa, mengajar yang tidak tahu menjadi tahu, mendidik yang tidak mahu menjadi mahu, lantas dengan seribu kepayahan dan ketabahan, menolak kepentingan diri demi melahirkan para cendekia serta intelek agung. Itu kerja gurukan? Sejak ribuan tahun dahulu pun. (Ya, sesiapa sahaja yang memberi walau sedikit dari ilmunya yang bermanfaat - bagiku layak digelar guru walau hanya seorang pengemis malahan perompak sekalipun!)

SAMBEST: Barisan guru-guru yang pernah mengenalkan aku kepada hakikat ilmu!
Selamat Hari Guru dan Maafkan Kami Cikgu!

Tetapi guru bukan lilin. Tidak. Lilin nanti apabila habis diguna tinggal mencair dan tidak punya apa-apa lagi malah akan lekas diganti baru. Itu bukan umpamanya guru, berhenti berkhidmat bila diri sudah ketung dan tinggal puntung. Tetapi seorang guru adalah yang berusaha sepenuh kudrat mencerah dirinya dengan ilmu kemudian mencurah pula sepenuh ilmu kepada yang dahagakannya. Atma seorang guru itu agung mengabdikan diri dalam kitaran ilmu yang terus-terusan mengalir, ibaratnya ilmu tidak pernah putus selagi yang bergedang adalah sang guru pencinta ilmu kerana ilmu itu cahaya dan cahaya sifatnya menerangi yang gelap.

Demi guru-guru yang pernah mengajarku tulis baca, yang mendidik aku bahawa - hakikat ilmu itu bukan untuk dijunjung, bukan sekadar untuk mengenal dunia tetapi kenal hati, kenal diri, kenal Tuhan Yang Maha Pencipta! Selamanya guru-guru itu akan berada dalam lipatan doaku, semoga tabahlah mereka, redhalah mereka akan segala ilmu yang pernah ditumpahkan dahulu. Kerana guru yang telah mengajarku, aku selamanya juga akan terus menjadi pencinta ilmu! Terima kasih guru-guruku!

Aku terkesan dengan sajak Guru karya Prof Winarno Surahmad ini;

“Tanpa sebuah kepalsuan, guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,
Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.

Otonominya, kompetensinya, profesinya
hanya sepuhan pembungkus rasa getir,”

“Bolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya, tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari
kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap
yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?”

“Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar
ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap
dalam kondisi terburuk,”

“Sejuta batu nisan
guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang
sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengan gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta
guru tua yang terlupakan oleh sejarah,”

p/s: Masih adakah lagi sekolahnya di Malaysia yang seperti kandang ayam?


Bertatih aku berjalan,

Tuesday, May 12, 2009

Usrah Terakhir

Ia bukanlah usrah terakhir di abad ini. Bukan. Usrah tidak akan pernah berhenti. Ia adalah usrah terkahir kami berenam yang sedikit masa lagi akan tinggal bertiga. Betapa-tapalah pilunya mengenangkan kehilangan mereka. Ya, Kak Nurul Maya, Kak Solhaa dan Kak Yanti akan tamat pengajian mereka Julai nanti. Tamat dan pulang pergi meninggalkan kami adik-adik usrah yang pasti akan merindukan celoteh, buah fikiran, serta nasihat-nasihat mereka yang baik dan bernas. Oh, kami tidak akan lupakan semua itu.

Demi sebuah keakraban yang terjalin lewat berusrah selama dua tahun, kami meraikan mereka bertiga makan di Divan, restoran Tartar di sini. Maka riuhlah kami bertukar cerita, mendengar celoteh mereka buat kali terkahirnya. Tuhan Maha Penyayang – menemukan kami semua dalam lingkungan ukhwah yang tidak bertepi nikmat bersahabat dan berkasih sayang – moga-moga Dia tetap memelihara ikatan ini sampai bila-bila, biar sampai mati pun!

Yang diraikan: Kak Solhaa, kak Yanti dan Kak Maya

Tavuk Kebab: Nasi putih, ayam panggang, bawang putih, sos dan lavash

Et Kzarmasi: Juadah tengah hari saya; nasi putih, ayam dan salad

Pemanis mulut: Baklava dan teh sedang dituang Kak Shibrah ke dalam mangkuk

Kad tahniah: Congratulations!!

Kad: Penuh kata-kata tahniah dari kami

Makan: Kak Shibrah dan Kak Nabihah

Kami yang tinggal – Kak Nabihah yang penyabar, Kak Shibrah yang comel, dan saya yang paling nakal dan degil – pasti akan merindukan mereka bertiga! Pasti!

Demi Tuhan, doa-doa dari kami akan tetap sentiasa mengiringi kepulangan mereka dengan kejayaan yang tidak putus-putusnya. Moga menjadi doktor-doktor yang baik-baik, yang solehah, yang berjasa untuk agama, bangsa dan negara, ya akak-akak!

Oh, paling penting – jangan lupakan kami di sini, ya!


Tuai padi antara masak,
Esok jangan layu-layuan,
Intai kami antara nampak,
Esok jangan rindu-rinduan.

Saturday, May 09, 2009

10 Minit

Assalamualaikum,

Dobar den. Kako ste?

Ini ada sebuah filem pendek buah tangan Ahmed Imamovic, pengarah prolifik dari Bosnia langsung dinobatkan penerima anugerah Filem Pendek Terbaik Eropah 2002. Mengambil latar belakang dua buah negara sekitar tahun 1994; Sarajevo, Bosnia dan Rome, Italy - filem pendek ini merungkai kisah tragis yang berlaku ke atas sebuah keluarga ketika perang Bosnia-Serbia (1992-1995) di Sarajevo sementara pada masa yang sama di Rome, seorang pelancong Jepun sedang menanti gambar-gambarnya siap dicuci - semuanya dalam masa 10 minit sahaja. Kita mungkin sudah lupa, apatah lagi dengan tertangkapnya mastermind pembersihan etnik itu; Radovan Karadzic dan sekutunya Radko Mladic Julai tahun lepas seakan-akan dendam lama telah bersih dibilas. Percayalah, luka pedih yang kini berparut masih segar mendiami hati-hati mereka yang teraniaya di Bosnia Herzegovina.
This short film, as its title indicates lasts only 10 minutes, but it tells a much longer story which unravels only in our imagination upon seeing the end of the film. While 10 minutes in someone's life mean nothing, they can be fatal in another: a boy and his loving family, tragedy in a war-torn city, death and destruction. All in just ten minutes. The film follows two simultaneous story lines: one set in Rome, and one in Sarajevo, in 1994, the worst time of the war in Bosnia.

Mungkin kamu pernah menonton filem pendek ini, mungkin tidak. Apa pun selamat menghabiskan masa selama kurang 10 minit! Hvala vam!



10 minit itu masanya saya menikmati coklat panas bersama biskut gula. Kadar waktu yang pasti berbeza bagi saudara kita di Palestin sana. Moga-moga doa kita tetap bersama mereka.

P/S yang tidak perlu: Maaflah, hanya mampu berkongsi entri ringkas sebegini setakat ini. Idea ada, tetapi mahu menulis panjang itu yang tidak mampu. Saatnya gue merasa buntu dan keliru. (^_^)


Glosari:

Dobar Den - Selamat tengah hari/petang (Bosnian)
Kako ste? - Apa khabar? (Serbian)
Hvala vam! - Terima kasih (Bosnian)



Akar nibung meresap-resap,
Akar mati dalam perahu,
Terbakar kampung nampak berasap,
Terbakar hati siapa yang tahu.

Saturday, May 02, 2009

Consequence



Ada satu ketika dalam hari-hari dewasa kita - sekarang
pasti pernah terkenangkan
peristiwa-peristiwa lucu - yang buat kita tersenyum sendirian
kadangkala memalukan - yang kita tolak jauh-jauh ke belakang fikiran
atau mengaibkan - yang cuba kita lupakan buat selamanya
segala peristiwa
yang pernah kita lakukan
sewaktu kecil
tika remaja
yang waktu itu
tidak pernah kita fikirkan
sebab dan akibatnya
naif, kata orang
melulu, kata mereka
'tak pernah nak fikir ke?' tanya ayah
'apalah yang ada dalam kepala otak budak ni?' keluh ibu
pun begitu
tidak kita endahkan
asalkan kita bahagia
dan merasa puas
ya, zaman kanak-kanak yang riang
siapa yang pernah fikir dahulu sebelum buat?
Alangkah!
Bukan salah kita.
Rupanya bahagian otak paling lambat bertumbuh
adalah bahagian
yang menimbang baik dan buruk;
kesan dan akibat -
itupun sempurna setelah
21 tahun umur kita.

Kita memang naif!



Tersenyum, teringat kisah-kisah lalu...

Friday, May 01, 2009

Best Things In Life



Stumbled upon this. Nothing, just stumble. Oh, yeah I stumble often these days. Inspiration, you know. I'll share with you what else I've stumbled upon. So long!

Oh, and Happy Labor's Day!



Do doctors get a day off on Labor's Day?

Thursday, April 30, 2009

When Head In Hands

 (Warning: I don't know, I think this entry is psychotic, you'll have your head in your hands in the end - but don't worry, it should be a win-win one and there's no harm done during the production of this entry *wink^wink*)

When things are getting somewhat upside down from what you’ve been planning, when problems bustling so sudden you don’t know where it came from, when you don’t know what cause what or how this came to be this, that it’s already bad without that interfering with that, you’re all messed up and you don’t even know where to begin to stop what had caused it. When head in hands, you’re all but thinking, is this what life is all about? And that sudden thought of removing yourself from the surface of earth forever kept jostling up until you realize that you’re going much much too far…


Then you start blaming people, others who you think had made it all worse on all accounts...

Thank you very much to the people around you who act like they understand you more than you do yourself, and those who seems to think that they’re taking care of your life like you don’t care about it anymore than they do. They kept jutting fingers in your life and think that they’re doing a very good job all the while without knowing they’re damaging your dream life that you’ve built so hard you felt like you'd kill that someone who ruined it. This people who think that, whatever you do, are all wrong in their perfect eyes and decided that you should understand their demand while they mend your life. What do you call this kind of people, huh?

Later after that, hatred starts building inside you. You hate these people; you loath them to the core of your existence. In your defiance, they are the one who created all these madness. You didn't do anything wrong. You know you need guidance but not from these kind of people, not when you alone understand what you’re going through that you’d cried so much you can’t cry anymore. You want to run, to go away from this depression but you’d got nowhere to run because the bad news is you can’t even run. Check mate! Ha Ha. How much worse can it be, huh?

The worst of it is you keep all these misery to nobody but yourself. You can’t confide with anyone because for you, they can’t understand whatever it is you’re going through. 'Everybody got problems', that's what they're going to say. It’s hard enough having to explain to them, let alone making them understand you. You’re having these delusions like forever until you’re immune to it and you don’t care anymore what anyone else said. You create another world; the world where you hide your face under masks of pretense, where you can forget all the despair, the wretchedness that’s been burdening you and you’re happy with this make up life although you wish so much that you can stop all this for once.

Oh, you’ve heard all the remedies for the suffering soul, but nothing so much near that can cure your wounded heart.

Finally, it leaves you nothing. No solution and you’re tired of wearing the false facade while the inside of you is crushing to bits. What else could you do? All the sadness, the unhappiness, the hatred; its eating you up slowly and you’re becoming weaker and weaker - unnoticed by you; you’re actually becoming someone else. Poor soul.


You’ve got to go somewhere else. Somewhere where you can be you, where you can start a fresh new life - of which you know seems like impossible for you...

Ironically - beyond all the revulsion - deep down inside your heart, you know, there's still one hope left that hold up your dignity; the true one who knows all the answers to all your absurd questions. It’s Him. Who has been listening to all your prayers, your broken heart miseries, and your stupid, childish, selfish grumbling. He knows it all even the tiniest bit of your heart whispering. But sometimes, He just don’t want to unleash it right in front of your eyes, (yeah, sometimes even I think that’s kind of unfair - I mean it's unfair to give something the moment someone ask for it - we'll be spoil) He wants you to learn it by yourself, to find the real meaning of life and to understand the value of being only a human. Hit the mat, He’d said and be patience, help will surely come in ways you never imagine. 

When head in hands, what'll you do?



Wednesday, April 29, 2009

En Forensique I : The Encounter

Pagi itu saya ke kelas seperti biasa, tetapi sedikit lewat memandangkan kelas pada hari itu hanya terletak di belakang hostel. Kelas, atau setepatnya rumah mayat. Ya, saya akan memulakan cycle Forensic Medicine. Apa yang mahu dibayangkan? Oh, saya tidak tahu.

Setiap kali sebelum ke kelas, bersedia atau tidak dengan topik yang akan dibincangkan pada hari itu, saya tetap meletakkan mode bersedia sebagai penyedap hati. Bermula dengan yang positif, kononnya! Tetapi habislah kalau tiba-tiba disoal guru, ilmu pula bagai di hujung kail, ditarik-tarik tak dapat, ditunggu-tunggu tak tiba. Kadang-kadang kalau bernasib baik, kerana nama saya letaknya yang pertama dalam senarai nama pelajar, maka yang disoal adalah satu dua muka yang pertama yang mana, sempat saya selak-selak sedikit malam sebelumnya atau tadi sebelum guru masuk ke kelas. Itupun usaha jugakan?

Tidak apa, pembelajaran menjadi lebih berkesan kalau kita sering membuat salah dan dibetuli guru. Betulkan? Ia lebih tepat menusuk masuk terperangkap dalam neuron-neuron yang baru terbentuk demi menyimpan seciput memori kecil itu. Harap-harapnya bertahan sampai ke tua! Tetapi jangan selalu sangat membuat salah, nanti guru pun tak pandang, kita pun terkapai-kapai dalam kesesatan yang nyata. Dunia hari ini, manusia sering berlumba-lumba, ke hadapan dan terus berlari ke hadapan. Sedangkan masa yang ada tidak banyak, aduhai!

Tambah-tambah pula cycle Forensic ini kerap kali dibesar-besarkan cerita, merupakan cycle yang paling digeruni sekali dalam sejarah pembelajaran perubatan selepas subjek Anatomy dahulu di sini. Yang digeruni malahan bukanlah mayat yang harus didepani dalam proses memahami prosedur autopsi itu, tetapi adalah buku teks setebal 463 muka surat yang perlu direbus, diperah dan kemudian diminum airnya. Ertinya, setiap hari dalam seminggu lebih ini harus baca (dibaca: baca, fahamkan dan ingat dalam satu malam) sejumlah 70-90 muka surat paling banyak kerana soalan guru tidak terjangkakan dari muka surat manakah munculnya ia. Adillah juga kiranya soalan cepu emas ini datang bertandang; buku Forensic kamu baca, Al-Quran kamu baca tidak? Aduhailah jiwa-jiwa yang lemah!

Cuaca cerah elok pagi itu, tetapi sejuk tetap sejuk. Semakin bersinar matahari, semakin kuat bayu bertiup. Seakan-akan ada pertandingan bersaing kekuatan. (Oh, kamu ingat kisah pendek itu?) Saya masuk ke dalam kelas yang sudah dipenuhi oleh pelajar dari kelas lain, kali ini kami bergabung lagi dan kelas sempit itu berusaha memuatkan kami semua yang berjumlah 15 orang. Ya, kalau mahu belajar, jangan banyak rungutan nanti nikmat menuntut ilmu itu terhapus sama sekali.

“Hari ini kita akan tengok mayat!”, sahut rakanku, ceria.

Bukankah terlalu ironi penyataan tersebut dengan keghairahan yang jelas terpamer?

“Baguslah, sebab aku tak habis baca lagi”, sahut seorang rakan yang lain pula.

Ini lagi terlalu kontradiksinya. Melihat mayat lebih bagus dari membaca buku?

Walhal di dalam hati, Tuhan sahaja yang tahu betapa bertahan-tahannya keberanian kami dengan doa dan zikir yang tidak henti-henti. Waktu inilah firman Tuhan dalam surah Ar-Ra’du ayat 28 benar-benar menguasai jiwa. Duhailah hati-hati yang lemah! Dan kami bergerak perlahan-lahan menuju bilik autopsi yang terletak nun di hujung sekali sambil tangan cekatan mengikat kemas topeng penutup hidung ke muka.

Apa itu mati?

Kalau imaginasi waktu kecil saya tidak salah, mati itu bererti dibungkus dengan kain putih, diangkat oleh ramai orang dan dikambus di dalam lubang yang gelap. Kemudian ditinggalkan orang sendirian, tidak lagi dijenguk untuk beberapa lama. Apabila mula bersekolah, saya belajar bahawa setelah mayat ditinggalkan orang tujuh langkah, akan datang dua malaikat maut yang namanya Munkar dan Nakir (dari namanya juga sudah gerun, bukan?) menyoal si mati dengan soalan-soalan yang sudah saya hafal jawapannya setepat mungkin waktu itu kerana kata guru, kalau tidak dapat menjawab dengan baik, akan dipukul sang malaikat dengan kuat sehingga terbenam sedalam tujuh petala bumi.

Dan setelah sedikit dewasa, saya mengerti bahawa mati itu bukan sekadar ‘pergi tidak kembali’ tetapi adalah satu perjalanan lain di daerah asing yang kita tidak diberi melainkan sedikit ilmu mengenainya. Bezanya perjalanan itu harus ditempuh sendirian tanpa keluarga dan teman, kecuali beruntunglah mereka-mereka yang siap membawa bekal amalan bersama-sama.

Lamunan terhenti saat bau hanyir menyengit mencucuk deria bau saya. Ya ampun, busuk bau bangkai manusia ini rupanya. Saya menekap tangan ke hidung yang sudah pun kejap dipakaikan mask. Tanpa disangka-sangka, rakan di sebelah menghulurkan Vicks.

“Tak tahan bau, ya?”, soalnya.

Padanlah nampak tenang sahaja dari tadi, sudah ada persiapan rapi rupanya. Saya yang terkesip-kesip menahan bau menyambut tanpa memberikan jawapan. Secalit Vicks saya sapu pada hidung kemudian menarik nafas kelegaan. Saya pulangkan kembali dengan ucapan terima kasih dan rakan saya sekadar tersenyum sinis. Cis!

Rasa sejuk mencengkam naik; membuang segala rasa yang aneh-aneh itu, saya melihat sekeliling. Mata merakam setiap inci ruang yang menempatkan dua almari besi berisi perkakasan bedah, satu almari berkaca, sebuah meja beserta kerusi, sinki dan sebuah alat penimbang di suatu sudut di sebelahnya. Bilik ini bertutup rapi, tingkap yang terkunci rapat dan hanya satu pintu untuk masuk dan keluar. Di setiap penjuru tingkap terletak gambar kecil Jesus yang dianggap Tuhan oleh orang Kristian. Hati menggerutu bingung, sudah berdepan dengan mayat-mayat ini, apakah bisa lagi berada dalam kegelapan yang zulmat? Benarlah, cahaya hidayah itu memang milik Tuhan dan Dia memberi kepada sesiapa yang dikehendakinya. Tatkala itu jua pandangan tertumpah pada objek yang berada di tengah-tengah ruang autopsi itu - yang saya nampak pertama kali masuk tadi tetapi buat-buat tidak nampak - mayat yang akan kami bedah!

Bersambunglah pula…

(Kalau saya rajin, entri ini akan ada penyambungnya. Kalau tidak, kamu buatlah cerita sendiri. Eheh!)

Maksudnya: “Allah (Yang Menguasai Segala-galanya), Ia mengambil dan memisahkan satu-satu jiwa dari badannya, jiwa orang yang sampai ajalnya semasa matinya, dan jiwa orang yang tidak mati: dalam masa tidurnya; kemudian Ia menahan jiwa orang yang Ia tetapkan matinya dan melepaskan balik jiwa yang lain (ke badannya) sehingga sampai ajalnya yang ditentukan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (untuk memahaminya)” (Surah az-Zumar, ayat 42).



Bisa benar, bisa tidak,

Bingung



Road Not Taken by Robert Frost

TWO roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

... dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah: 216)


Ya Tuhan, aku amat butuh petunjuk dariMu!


Tuesday, April 28, 2009

Hurt, Broken, Unmended, Lost

Perhaps the more familiar
someone is
to you,
the harder it is
to separate her from
the person she is
to you,
and the harder it is
to see her
as a person in her own right.

Excerpt from the verse-novel, Seeing Emily by Joyce Lee Wong
(Another book I bought, for sanity is ripping away from me)





The world is cruel,

Thursday, April 23, 2009

Barukisu in Top 34 Blogs under Medical

Breaking news...

I wasn't expecting this but, alhamdulillah it did brighten up my day a little...

Barukisu was listed along in Top 34 Blogs under Medical by NetworkedBlogs.com

No. 13
10 followers
With just 5 entries on Health and Medical (though only the last three was self-made and real)
And I was listed?

Not bad -
but still,
not much

Don't ask me how it came to be there, or how was the selection done. I have zero knowledge about this. If it was by voting - then I guess, no other words could describe how much I appreciate those who'd checked this humble blog  - so, thank you very much!! I owe you a thousands more than just an appreciation.

 Click for a larger view

I guess, being in the list - together with others who are much, much more serious about writing and sharing medical stuff with their readers - mean that I too held the same responsibility. But I don't want this blog to be so medical. Some of the entries on health were meant to be light and understandable so that they can reach those who are without the medical basis easier. (Well, I do hope so)

So, that means I have to write more medical stuffs right? Or what?  =D



Confuse but happy,