Wafeya

Mata ke bumi, hati ke langit

Thursday, April 30, 2009

When Head In Hands

 (Warning: I don't know, I think this entry is psychotic, you'll have your head in your hands in the end - but don't worry, it should be a win-win one and there's no harm done during the production of this entry *wink^wink*)

When things are getting somewhat upside down from what you’ve been planning, when problems bustling so sudden you don’t know where it came from, when you don’t know what cause what or how this came to be this, that it’s already bad without that interfering with that, you’re all messed up and you don’t even know where to begin to stop what had caused it. When head in hands, you’re all but thinking, is this what life is all about? And that sudden thought of removing yourself from the surface of earth forever kept jostling up until you realize that you’re going much much too far…


Then you start blaming people, others who you think had made it all worse on all accounts...

Thank you very much to the people around you who act like they understand you more than you do yourself, and those who seems to think that they’re taking care of your life like you don’t care about it anymore than they do. They kept jutting fingers in your life and think that they’re doing a very good job all the while without knowing they’re damaging your dream life that you’ve built so hard you felt like you'd kill that someone who ruined it. This people who think that, whatever you do, are all wrong in their perfect eyes and decided that you should understand their demand while they mend your life. What do you call this kind of people, huh?

Later after that, hatred starts building inside you. You hate these people; you loath them to the core of your existence. In your defiance, they are the one who created all these madness. You didn't do anything wrong. You know you need guidance but not from these kind of people, not when you alone understand what you’re going through that you’d cried so much you can’t cry anymore. You want to run, to go away from this depression but you’d got nowhere to run because the bad news is you can’t even run. Check mate! Ha Ha. How much worse can it be, huh?

The worst of it is you keep all these misery to nobody but yourself. You can’t confide with anyone because for you, they can’t understand whatever it is you’re going through. 'Everybody got problems', that's what they're going to say. It’s hard enough having to explain to them, let alone making them understand you. You’re having these delusions like forever until you’re immune to it and you don’t care anymore what anyone else said. You create another world; the world where you hide your face under masks of pretense, where you can forget all the despair, the wretchedness that’s been burdening you and you’re happy with this make up life although you wish so much that you can stop all this for once.

Oh, you’ve heard all the remedies for the suffering soul, but nothing so much near that can cure your wounded heart.

Finally, it leaves you nothing. No solution and you’re tired of wearing the false facade while the inside of you is crushing to bits. What else could you do? All the sadness, the unhappiness, the hatred; its eating you up slowly and you’re becoming weaker and weaker - unnoticed by you; you’re actually becoming someone else. Poor soul.


You’ve got to go somewhere else. Somewhere where you can be you, where you can start a fresh new life - of which you know seems like impossible for you...

Ironically - beyond all the revulsion - deep down inside your heart, you know, there's still one hope left that hold up your dignity; the true one who knows all the answers to all your absurd questions. It’s Him. Who has been listening to all your prayers, your broken heart miseries, and your stupid, childish, selfish grumbling. He knows it all even the tiniest bit of your heart whispering. But sometimes, He just don’t want to unleash it right in front of your eyes, (yeah, sometimes even I think that’s kind of unfair - I mean it's unfair to give something the moment someone ask for it - we'll be spoil) He wants you to learn it by yourself, to find the real meaning of life and to understand the value of being only a human. Hit the mat, He’d said and be patience, help will surely come in ways you never imagine. 

When head in hands, what'll you do?



Wednesday, April 29, 2009

En Forensique I : The Encounter

Pagi itu saya ke kelas seperti biasa, tetapi sedikit lewat memandangkan kelas pada hari itu hanya terletak di belakang hostel. Kelas, atau setepatnya rumah mayat. Ya, saya akan memulakan cycle Forensic Medicine. Apa yang mahu dibayangkan? Oh, saya tidak tahu.

Setiap kali sebelum ke kelas, bersedia atau tidak dengan topik yang akan dibincangkan pada hari itu, saya tetap meletakkan mode bersedia sebagai penyedap hati. Bermula dengan yang positif, kononnya! Tetapi habislah kalau tiba-tiba disoal guru, ilmu pula bagai di hujung kail, ditarik-tarik tak dapat, ditunggu-tunggu tak tiba. Kadang-kadang kalau bernasib baik, kerana nama saya letaknya yang pertama dalam senarai nama pelajar, maka yang disoal adalah satu dua muka yang pertama yang mana, sempat saya selak-selak sedikit malam sebelumnya atau tadi sebelum guru masuk ke kelas. Itupun usaha jugakan?

Tidak apa, pembelajaran menjadi lebih berkesan kalau kita sering membuat salah dan dibetuli guru. Betulkan? Ia lebih tepat menusuk masuk terperangkap dalam neuron-neuron yang baru terbentuk demi menyimpan seciput memori kecil itu. Harap-harapnya bertahan sampai ke tua! Tetapi jangan selalu sangat membuat salah, nanti guru pun tak pandang, kita pun terkapai-kapai dalam kesesatan yang nyata. Dunia hari ini, manusia sering berlumba-lumba, ke hadapan dan terus berlari ke hadapan. Sedangkan masa yang ada tidak banyak, aduhai!

Tambah-tambah pula cycle Forensic ini kerap kali dibesar-besarkan cerita, merupakan cycle yang paling digeruni sekali dalam sejarah pembelajaran perubatan selepas subjek Anatomy dahulu di sini. Yang digeruni malahan bukanlah mayat yang harus didepani dalam proses memahami prosedur autopsi itu, tetapi adalah buku teks setebal 463 muka surat yang perlu direbus, diperah dan kemudian diminum airnya. Ertinya, setiap hari dalam seminggu lebih ini harus baca (dibaca: baca, fahamkan dan ingat dalam satu malam) sejumlah 70-90 muka surat paling banyak kerana soalan guru tidak terjangkakan dari muka surat manakah munculnya ia. Adillah juga kiranya soalan cepu emas ini datang bertandang; buku Forensic kamu baca, Al-Quran kamu baca tidak? Aduhailah jiwa-jiwa yang lemah!

Cuaca cerah elok pagi itu, tetapi sejuk tetap sejuk. Semakin bersinar matahari, semakin kuat bayu bertiup. Seakan-akan ada pertandingan bersaing kekuatan. (Oh, kamu ingat kisah pendek itu?) Saya masuk ke dalam kelas yang sudah dipenuhi oleh pelajar dari kelas lain, kali ini kami bergabung lagi dan kelas sempit itu berusaha memuatkan kami semua yang berjumlah 15 orang. Ya, kalau mahu belajar, jangan banyak rungutan nanti nikmat menuntut ilmu itu terhapus sama sekali.

“Hari ini kita akan tengok mayat!”, sahut rakanku, ceria.

Bukankah terlalu ironi penyataan tersebut dengan keghairahan yang jelas terpamer?

“Baguslah, sebab aku tak habis baca lagi”, sahut seorang rakan yang lain pula.

Ini lagi terlalu kontradiksinya. Melihat mayat lebih bagus dari membaca buku?

Walhal di dalam hati, Tuhan sahaja yang tahu betapa bertahan-tahannya keberanian kami dengan doa dan zikir yang tidak henti-henti. Waktu inilah firman Tuhan dalam surah Ar-Ra’du ayat 28 benar-benar menguasai jiwa. Duhailah hati-hati yang lemah! Dan kami bergerak perlahan-lahan menuju bilik autopsi yang terletak nun di hujung sekali sambil tangan cekatan mengikat kemas topeng penutup hidung ke muka.

Apa itu mati?

Kalau imaginasi waktu kecil saya tidak salah, mati itu bererti dibungkus dengan kain putih, diangkat oleh ramai orang dan dikambus di dalam lubang yang gelap. Kemudian ditinggalkan orang sendirian, tidak lagi dijenguk untuk beberapa lama. Apabila mula bersekolah, saya belajar bahawa setelah mayat ditinggalkan orang tujuh langkah, akan datang dua malaikat maut yang namanya Munkar dan Nakir (dari namanya juga sudah gerun, bukan?) menyoal si mati dengan soalan-soalan yang sudah saya hafal jawapannya setepat mungkin waktu itu kerana kata guru, kalau tidak dapat menjawab dengan baik, akan dipukul sang malaikat dengan kuat sehingga terbenam sedalam tujuh petala bumi.

Dan setelah sedikit dewasa, saya mengerti bahawa mati itu bukan sekadar ‘pergi tidak kembali’ tetapi adalah satu perjalanan lain di daerah asing yang kita tidak diberi melainkan sedikit ilmu mengenainya. Bezanya perjalanan itu harus ditempuh sendirian tanpa keluarga dan teman, kecuali beruntunglah mereka-mereka yang siap membawa bekal amalan bersama-sama.

Lamunan terhenti saat bau hanyir menyengit mencucuk deria bau saya. Ya ampun, busuk bau bangkai manusia ini rupanya. Saya menekap tangan ke hidung yang sudah pun kejap dipakaikan mask. Tanpa disangka-sangka, rakan di sebelah menghulurkan Vicks.

“Tak tahan bau, ya?”, soalnya.

Padanlah nampak tenang sahaja dari tadi, sudah ada persiapan rapi rupanya. Saya yang terkesip-kesip menahan bau menyambut tanpa memberikan jawapan. Secalit Vicks saya sapu pada hidung kemudian menarik nafas kelegaan. Saya pulangkan kembali dengan ucapan terima kasih dan rakan saya sekadar tersenyum sinis. Cis!

Rasa sejuk mencengkam naik; membuang segala rasa yang aneh-aneh itu, saya melihat sekeliling. Mata merakam setiap inci ruang yang menempatkan dua almari besi berisi perkakasan bedah, satu almari berkaca, sebuah meja beserta kerusi, sinki dan sebuah alat penimbang di suatu sudut di sebelahnya. Bilik ini bertutup rapi, tingkap yang terkunci rapat dan hanya satu pintu untuk masuk dan keluar. Di setiap penjuru tingkap terletak gambar kecil Jesus yang dianggap Tuhan oleh orang Kristian. Hati menggerutu bingung, sudah berdepan dengan mayat-mayat ini, apakah bisa lagi berada dalam kegelapan yang zulmat? Benarlah, cahaya hidayah itu memang milik Tuhan dan Dia memberi kepada sesiapa yang dikehendakinya. Tatkala itu jua pandangan tertumpah pada objek yang berada di tengah-tengah ruang autopsi itu - yang saya nampak pertama kali masuk tadi tetapi buat-buat tidak nampak - mayat yang akan kami bedah!

Bersambunglah pula…

(Kalau saya rajin, entri ini akan ada penyambungnya. Kalau tidak, kamu buatlah cerita sendiri. Eheh!)

Maksudnya: “Allah (Yang Menguasai Segala-galanya), Ia mengambil dan memisahkan satu-satu jiwa dari badannya, jiwa orang yang sampai ajalnya semasa matinya, dan jiwa orang yang tidak mati: dalam masa tidurnya; kemudian Ia menahan jiwa orang yang Ia tetapkan matinya dan melepaskan balik jiwa yang lain (ke badannya) sehingga sampai ajalnya yang ditentukan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (untuk memahaminya)” (Surah az-Zumar, ayat 42).



Bisa benar, bisa tidak,

Bingung



Road Not Taken by Robert Frost

TWO roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

... dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah: 216)


Ya Tuhan, aku amat butuh petunjuk dariMu!


Tuesday, April 28, 2009

Hurt, Broken, Unmended, Lost

Perhaps the more familiar
someone is
to you,
the harder it is
to separate her from
the person she is
to you,
and the harder it is
to see her
as a person in her own right.

Excerpt from the verse-novel, Seeing Emily by Joyce Lee Wong
(Another book I bought, for sanity is ripping away from me)





The world is cruel,

Thursday, April 23, 2009

Barukisu in Top 34 Blogs under Medical

Breaking news...

I wasn't expecting this but, alhamdulillah it did brighten up my day a little...

Barukisu was listed along in Top 34 Blogs under Medical by NetworkedBlogs.com

No. 13
10 followers
With just 5 entries on Health and Medical (though only the last three was self-made and real)
And I was listed?

Not bad -
but still,
not much

Don't ask me how it came to be there, or how was the selection done. I have zero knowledge about this. If it was by voting - then I guess, no other words could describe how much I appreciate those who'd checked this humble blog  - so, thank you very much!! I owe you a thousands more than just an appreciation.

 Click for a larger view

I guess, being in the list - together with others who are much, much more serious about writing and sharing medical stuff with their readers - mean that I too held the same responsibility. But I don't want this blog to be so medical. Some of the entries on health were meant to be light and understandable so that they can reach those who are without the medical basis easier. (Well, I do hope so)

So, that means I have to write more medical stuffs right? Or what?  =D



Confuse but happy,

Wednesday, April 22, 2009

Dari Bawah


Seperti kata orang-orang lama, hidup itu ibarat roda; sekejap berada di atas, nanti sekejap di bawah pula. Semakin laju ia berputar, semakin tak terasakan silih bergantinya pusingan. Terus berputar dan berputar seperti tak akan ada hentinya.

Sewaktu saya masih anak-anak, nasihat ini sentiasa dititik beratkan; kalau berada di atas, jangan dilupa nanti bila-bila masa sahaja akan berada di bawah pula.

Di jalan mana pun, pasti akan ada persimpangan yang bakal disinggahi. Selaju mana pun roda berputar, ada waktu ia akan perlahan dan berhenti; simpang tiga atau simpang empat sekalipun pilihan harus tetap dibuat, kerana perjalanan perlu diteruskan. Jalan luruskah, jalan bengkok berbelok-belokkah, atau berlekuk mengandung lecak, kita yang memilihnya. Sedikit kita ingat bahawa Tuhan jua yang menentukan - untuk segala pilihan yang tersedia.

Semoga saya tidak lupa ingatan Tuhan dalam kitabNya, 'Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.'
(Al-Baqarah, 153)

Merasa berada di bawah kadang kala adalah nikmat susah yang tidak terperikan. Tanah ini begitu asing!

 *Gambar - Lebuhraya Utara Selatan - Saya mahu pulang!



Yang lelah dan capek,

Thursday, April 16, 2009

Bahagia

Sakit hati menunggu guru yang tidak kunjung tiba terubat bila...



Ini semua sampai petang tadi

Saya memang lama tertarik dengan Melaka dan sejarahnya, sejak sekolah dulu lagi. Dari Melaka, saya mengenal Melayu dan budayanya. Saya bukan pecinta buku-buku sejarah tetapi kalau dibentukkan dalam sebuah jalan cerita saya tidak keberatan untuk membacanya. Jadi, saya beli NBSA ini untuk dibuat koleksi.

Rasanya teramat bahagia. Untuk itu, terima kasih kepada satu-satunya lelaki yang saya cintai sepenuh hati dalam hidup saya. Yang memahami seluruhnya isi hati saya. Saya tahu kadang-kadang saya agak sedikit kebudak-budakan. Tetapi lelaki ini yang tidak pernah bosan melayan kerenah saya, (tetapi juga jarang-jarang beri muka kepada saya) membenarkan saya memesan buku ini, memandangkan saya tidak menjumpai buku ini ketika di Malaysia. Saya tidak punya kad kredit sendiri. God knows what will happen if I do have one. Not shopping clothes and stuff. No, forget about it! I'll shop for book, book, book and more books!! And that, saying something. Terima kasih yang tidak terhingga, ayah! Kerana memberi peluang walau sekali ini sahaja! Maaflah, anakmu ini orangnya gila buku!

Buku ini sasarannya lebih kepada kanak-kanak dan remaja. Tetapi tidak salah rasanya kalau orang tua seperti saya membacanya. Setiap hari yang dilalui adalah peringkat-peringkat kematangan dalam proses menuju kedewasaan; untuk seketika, saya mahu kembali ke zaman kanak-kanak - biar sekejap cuma.

Tentang buku ini:

Ulasan dari pembaca - Kubu Buku, Ulas Buku, The Reading Room
Sinopsis - ...Tak ramai tahu Sultan Alauddin bukan sahaja tangkas menangkap penjenayah, di waktu kecilnya motivasi diri baginda sebagai insan berketokohan sudah terpancar. Rupanya baginda juga pencipta teknologi kereta yang pertama! Dan paling menggamamkan permainan politik baginda di peringkat serantau amat bijaksana... Baca seterusnya.

***************

Esok adalah hari pelancaran Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur 2009 yang bermula dari 17-26 April 2009. Zaman sekolah dahulu, peluang bergadang di PWTC mencari buku memang tidak akan dilepaskan. Kini, semuanya tinggal kenangan. Kepada rakyat Malaysia yang 'bertuah', selamat mencandu ilmu di sana, ya! Aduhai, cemburunya saya!

Okaylah, saya mahu membaca buku Forensic sekarang, nanti esok bukan dada mayat yang dibelah, tetapi leher saya yang bakal disembelih cikgu. Aduh!




Orang selalu salah faham,
dan sering kita  tidak tahu-
bagaimana mahu betulkan.
Ah, biar sahajalah!

Monday, April 13, 2009

Penjara dan Sampah Sarap


Rasulullah s.a.w. dalam sabdanya pernah mengingatkan kita: " Dunia itu penjara bagi orang mu'min, dan syurga bagi orang kafir". Kita melihat dunia sebagai suatu perhiasan yang kalau kita tidak ada, hidup adalah ibarat sang pengemis yang menadah semangkuk tangan setiap hari, mengeluh dan meminta kepada insan, memberi barang sedikit simpati. Sedang sering kita lupa, dunia itu hakikatnya sementara dan yang sementara itu tidak kekal. Maka, bagi orang-orang beriman perumpamaan dunia itu mudah; dunia itu ibaratnya penjara.  Sebuah kisah menceritakan di mana ketika Rasulullah s.a.w. pergi berehlah ( jalan-jalan) dengan para sahabat, baginda melalui kawasan sampah sarap yang sangat busuk lalu baginda bersabda: "Inilah perumpamaan dunia yang kamu kejar". Barangkali kawan-kawan, kita adalah maling yang sering curi-curi keluar dari penjara dan yang harus dipenjarakan kerana sering kali berlegar mengeremuni sampah sarap yang busuk.

Doa Rasulullah SAW di pagi hari,
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan hari ini, kemenangannya, pertolongannya, cahayanya, keberkatannya, dan petunjuknya. Dan aku memohon perlindunganMu dari kejahatan yang ada di dalamnya dan kejahatan yang ada sesudahnya.

Selamat hari Isnin.

*Maling = pencuri


Saturday, April 11, 2009

Sawan

Apakah reaksi anda andai tiba-tiba sahaja seseorang berdekatan anda jatuh sawan?



Makanan tengah hari tadi memang kurang sedap. Bukan saya tidak bersyukur tetapi rasanya benar tawar dan sedikit pahit kerana terlalu banyak bawang merah. Sambil makan, beberapa kali saya letak serbuk garam yang disediakan. Tetapi saya habiskan juga kerana sangat lapar (walaupun nasi gorengnya tinggi menggunung hampir mencecah 5 sm dan penuh sepinggan)

Saya berbual-bual sementara menanti rakan saya selesai menikmati nasi gorengnya pula (dengan bahagianya kerana saya sudah habis makan). Tatkala itulah terdengar satu bunyi yang sangat kuat datang dari arah kiri. Bunyi kerusi terjatuh; saya palingkan muka dan melihat. Seorang lelaki pertengahan umur terbaring kaku di atas lantai dengan garpu di tangan. Ketua kelas yang makan bersama sudah berada di tepinya dan memalingkan badannya ke arah sisi. Sejurus, fasa tonic tamat dan garpu yang dipegang terjatuh. Fasa clonic menyusul. Tangannya menggoncang kuat, mulutnya berbuih, matanya membulat memandang tidak tentu arah. Agak lama kemudian, (hampir 5 minit) goncangan berhenti, dia menjadi kaku dan terbaring lesu, nafasnya kedengaran kuat dan sukar; makanan yang masih ada di dalam mulutnya menghalang pernafasan dengan sempurna.

Sekalian yang ada datang membantu, (ya, mujur yang makan-makan di situ majoritinya pelajar perubatan atau doktor) tetapi tidak boleh berbuat apa-apa melainkan tunggu dan lihat. Sesetengah yang lain pula menjerit minta dipanggilkan ambulan. Tukang masak yang muncul entah dari mana cuba memaksakan sudu ke dalam mulutnya yang sudah keras dan kaku seperti terkena kancing gigi. Saya rasa itu bukan idea yang baik. Pesakit dalam keadaan tidak sedarkan diri, memasukkan sesuatu dalam mulutnya yang sukar dibuka boleh menyebabkan trauma. Mujur guru (juga seorang doktor) yang sedang mengajar di study room berdekatan datang dan memberitahu.

Agak lama berada dalam unconscious state (keadaan tidak sedar) - kami agak risau sebenarnya. Pesakit mungkin tertidur dan kami tidak mengejutkan; fasa koma. Goncangan yang kuat seluruh badan tadi melemahkan tenaganya. Melalui kata-kata yang saya dengar, rupanya beliau menghidap post traumatic epilepsy, sejenis sawan yang disebabkan kerosakan pada otak akibat kecederaan serius pada bahagian kepala. Dan melalui pemerhatian, beliau mengalami sawan tonik-klonik atau Grand Mal.

Lalu, secara tiba-tiba juga sepertimana ia bermula, pesakit mula membuka mata, perlahan-lahan dan melihat sekeliling. Terkejut mungkin melihat ramai orang mengelilinginya. Saya tahu, dia sedang keliru. Selalunya pesakit tidak ingat apa-apa kejadian yang berlaku sebelumnya. Setelah beberapa minit, perlahan-lahan dia minta diangkat dan mereka membawanya ke bilik berdekatan dapur. Selang 15 minit kemudian barulah dua paramedik tiba memberikan bantuan.

Saya berasa kasihan. Saya kenal orang yang jatuh tersebut. Beliau banyak membantu kami ketika kami mula-mula datang ke Ukraine. Tetapi saya tidak dapat berbuat apa-apa. Saya kira, saya amat terkejut untuk melakukan apa-apa pun tambah-tambah simpati saya lebih menguasai. Pengalaman pertama saya berhadapan kes kecemasan di tempat awam. Saya perlu lebih banyak belajar.

Sedikit perkongsian tentang rawatan kecemasan ketika sawan:

Rawatan kecemasan diperlukan jika pesakit mengalami kekejangan yang serius.

Dalam kes sawan ini, pesakit akan pengsan dengan tiba-tiba, tubuh-badan menjadi kejang diikuti dengan sentakan anggota kaki dan tangan.

Pesakit jarang mati disebabkan sawan. Sawan yang berlaku sekali sahaja tidak membahayakan nyawa.

Anda tidak berupaya untuk menghentikan sawan tetapi ada beberapa perkara yang patut dan tidak patut anda buat untuk membantu pesakit yang sedang sawan:

HARUS BUAT:

Sentiasa tenang. Jangan panik.
Anda perlu berfikir dengan jelas untuk membantu pesakit tersebut.

Perhatikan pesakit semasa sawan (turutan peristiwa, pergerakan badan dan anggota, tempoh masa sawan)

Elakkan kecederaan
Jangan alihkan pesakit.
Alihkan pesakit hanya jika di dalam keadaan bahaya contohnya di tengah jalan atau tempat tinggi.
Jauhkan pesakit dari benda-benda merbahaya.

Pusingkan pesakit ke kedudukan mengiring.
Ini akan mengelakkan pesakit tercekik dengan air liur atau muntah sendiri.

Berikan sokongan dan jadilah orang yang sensitif terhadap perasaan pesakit.
Cakap dengan tenang dan perlahan, pastikan orang lain tidak mengerumuni pesakit.

JANGAN:

Pegang pesakit dengan kuat.
Biarkan sawan itu berhenti dengan sendiri.

Letakkan objek ke dalam mulut pesakit seperti sudu atau kunci.
Ini hanya akan menyebabkan kecederaan kepada mulut dan lidah.

Berikan makanan atau ubat melalui mulut
Tunggu sehingga sawan berhenti dan pesakit sedar sepenuhnya sebelum memberinya makan.

Lakukan CPR atau resusitasi mulut ke mulut.
Pesakit tidak akan berhenti bernafas atau mati dari sawan yang sekejap.

Biarkan pesakit tidur selepas sawan.

PENTING: Dapatkan pertolongan doktor jika sawan berterusan lebih dari 5 minit.

Sawan tonik-klonik (Grand Mal)


Mahu belajar lebih lagi tentang sawan? Anda boleh tonton di sini.


Don't panic,

Wednesday, April 08, 2009

Of books and choices

(No pictures, you'll be bored. Just some reviews about some books I read. Go on then if you really want to find out)

When my computer went crazy last month, I'd resorted to the famous old style (during which the word internet meant nothing at that time), but nearly-extinct free time activity; reading books. Since they had shown much loyalty - no doubt as I had to them - to me, I'd do them justice by listing them here starting from the early days of March (the long month of hope - that I'll get my computer working back - and patience) until early April.

Here goes the list:
  1. From Beirut to Jerusalem by Dr. Ang Swee Chai - on hold
  2. Laskar Pelangi by Andrea Hirata - PDF; on hold
  3. Twilight Saga by Stephanie Mayer (Twilight, New Moon, Eclipse, Breaking Dawn) - PDF; checked
  4. Ketika Cinta Bertasbih ep. 1 by Habiburrahman El-Shirazy - checked
  5. Remember Me? by Sophie Kinsella - checked
Sorry to say but I just can't stop there (so, here's the continuation):

  • Anybody There by Marian Keyes - currently reading

  • A Thousand Splendid Suns by Khaled Hosseini - to read

  • Midnight Sun by Stephanie Mayer (Twilight Saga 5th book) - PDF; to read

  • Ketika Cinta Bertasbih ep. 2 by Habiburrahman El-Shirazy - PDF; to read

  • Sang Pemimpi by Andrea Hirata (dari tetralogi Laskar Pelangi) - PDF; to read

  • Edensor by Andrea Hirata (dari tetralogi Laskar Pelangi) - PDF; to read

  • Peperangan Rasulullah SAW - waiting list (since I'm the last person to have to read it during usrah, I'd make it in no hurry to return it back to Kak Nabihah, but of course with permission *wink*)

  • Maryamah Karpov by Andrea Hirata - PDF; not in hand, currently searching, any idea?

  • Nama Beta Sultan Alauddin by Faisal Tehrani - on air by now, I guess.


  • Conclusion and... some reviews:

    Not that I'll read them all. I doubt that I could even finish them by the end of the year. This is just a presumptive list I make so that I'm not missing each one of them and as a reminder for me to return some of the books that I borrowed (hint: anybody who borrowed mine, please do the same)

    Alhamdullilah that my eyes are still in good condition and crystal clear since you must've been thinking of how I've been reading PDFs on the screen for hours without getting any eye sore. I must be really determined to do so because reading from laptop is not very comfortable and you'll get joint ache and back pain from sitting too long. And also because - I look hideous wearing spectacle, so to say. Thus, please don't try this at home.

    I read fictions more than non-fictions. I guess, it's because non-fictions are way more exciting and faster to finish than non-fictions. More over, reading non-fictions will require more time for thinking and digesting the particular knowledges and facts they want to convey. Plus, I may need quite a serene and tranquil atmosphere for reading. You couldn't just pick anytime, anyday to read them, because you are learning from them. Am I not right? You need to concentrate to be able to understand - yeah, I'm a slow reader when it come to non-fcitions. That's why I like it if the author can blend knowledges, facts, fantasies, advices, histories etc. in one whole book. Faisal Tehrani is a good example. I learned a lot from his book, Tuhan Manusia, Advencer Si Peniup Ney, 1515 and Kombat 1511.

    Reading Twilight Saga, made me wonder of how gifted a person could be to have created such a story. Fantasy blend in reality and surprisingly they still make sense although I tried very hard not to believe in them as I'd tried - unsuccesfully - with Harry Potter before. I envy her.

    Laskar Pelangi was somewhat brilliant! I've never ever before read a real life story that hold my breath every second or so by each word. It's amazing how these 10 children - so called Laskar Pelangi - turn the destitute, penniless, impoverished world of them into mesmerizing adventurous child fantasies - and some of them really turned into reality. They're daring, bold and audicious in their own way. I'd say it's worth a reading. And you have to watch the movie too. It's slow but oh, they're cute, funny and lively! They did take all the strong emotions ever exist on earth. (Okay, this maybe too exaggerating, but believe me, the book is great!)



    Ketika Cinta Bertasbih by Habiburrahaman El Shirazy. Well, I could say that this book somehow kind of a little bit twist from his celebrated Ayat-ayat Cinta except that there are more to it than just Islamic love story - not that I have any objection. It's a complex love story - that I can understand so far, but far more enthralling to include the life hardship as an oversea student without any scholarship. Well, that was quite unacceptable though, to make live with selling tempe and bakso and also to study, what with being the sole bread winner of the family too (the money from the selling then goes to his family in Indonesia). This - the willing to survive and finish study although it's been 9 years already - what kept me reading until the end. Now I'm waiting for the film which is due soon, InsyaAllah.



    I guess, that's enough for now.

    I'll be glad if you can share your list of books too. And feel free to leave some remarks here.

    Reading all these wonderful stuffs makes me wonder if I'd better put down my sthetoscope and white coat, rather, pick up the pen and begin writing my own book. It's a hard choice then, anyway. I can never make them. What do you say?

    Then again.

    A doctor is a doctor.

    A reader is a reader.

    And a writer is a writer.

    Can they fit in nicely for me?

    I never know.


    Always without wax,

    Monday, April 06, 2009

    So what?

    (This is just some crap. You probably don't want to read it. Skip it alive while you can)

    "Huh?!!" Gasping, my jaw dropping, eyes bulging wide with excitement. The things I just saw tempting me towards them even more closely. Books on the shelf. Here? In this small town? English? Something that's legible to me. That's rare. And there's just soooo much of them like I've never seen here before in Ukraine, let alone in Simferopol (well, if you count two full racks, three lines of books each and situated at only one corner of the big room,  that's already more than enough in the country where I study). Too bad my birthday had passed. I'd forced my friends to buy all these for me. Each and everyone of them. Nevermind, there's still next year. Last next year. Ha ha.

    While helping myself browsing through each, I can't help but thinking,

    So what, if we don't have Borders or MPH or Kinokuniya or W.H. Smith here?

    Or maybe Minerva, Pustaka Salam or Pustaka so on?

    So what?

    So, they don't have a lot of international bestsellers though. Yeah, Jodi Picoult's are there. Old stuffs. Some kid's books and teenager's. Hurm, so I bought this two (which cost me only UAH 13):
    1. Anybody Out There by Marian Keyes
    2. A Thousand Splendid Suns by Khalid Hosseini (the author of The Kite Runner)
    There are fictions and non-fictions. But then, the non-fictions aren't practical for me. Hah! Since when I've ever been a practical person, huh?


    Oh yeah, they're second-hands (I guess, some Londoners or Americans dumped/donated them. Not that I have any problem with that. Thanks anyway). Who cares? As long as they're in good condition and readable to me, I'm on it.

    I'll start with the blue one during my free time (as if I have enough). But since I've finished the Twilight Saga, this will do for the time being (I mean, I just can't help it you know). The yellow one? That's special. Some inspiration I need. Setting in Kabul, Afghanistan. With Taliban and stuff. Oh, yeah. That's something.

    Don't blame me. A month and a half without internet had turned me into that-girl-with-books again. Sorry to say, but I just can't stop once I've started. They're just like, my personal brand of heroine, you know. Books.

    Can't wait for 'Nama Beta Sultan Alauddin' by FT's. Ordered a week ago. I'll tell you what. Not worth it buying online when you're living in Simferopol. Tax charge, shipping charge. Doubled the price of the book itself. Guess, I'll just wait till I'm back in Malaysia. I wished they have FT's here (well, that's like wishing they start selling garcinia mangostana or carica papaya in the market here). Sigh.

    Outside the story: It seems like Simferopol has turned into some place you-can-eat-anywhere-you-please with branches of Halal food restaurants blooming up everywhere. Turkish, Tartarian and of course Arabic cuisines just around the corner I'd never encountered before during my fresh year. If to say it out loud - it's because we're here that they open the restaurants. The Muslims. The prices are reasonable enough but still a bit overbudget to put it between my pocket money. Still, as much as I can say - Malaysian foods won't survive here. Sigh again.

    Foot notes:

    Garcinia mangostana = Manggislah. Gotcha!
    Carica papaya = Go back to kindergarden if you don't know this!

    So what, right?

    Sunday, April 05, 2009

    Terima Kasih


    Baca dalam SATU nafas.

    Seperti kata Ustaz Hazrizal, 'erti hidup pada memberi', lalu dalam kehidupan ini, akan ada yang meminta (pertolongan) dan akan ada pula yang memberi. Ada hadits pendek namun sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain. Lantaran itu, syakir awi saya ucapkan pada insan-insan yang banyak membantu, saat komputer riba saya butuhkan pertolongan kamu. Pakar-pakar komputer yang bijak; Faiz, Khairul dan teman-teman baik dari bilik 831 serta 930. Terima kasih ya, numpangkan bilik kamu! Susah payah kamu semua, moga Allah sahaja yang membalasnya.

    Saya harap saya tidak rosakkannya lagi. =p

    Inhale. "So". Exhale. "That's it. I'm off to rinak now. Buying things for the Grand Dinner 09". Sigh.


    Nota kaki:

    Rinak - Pasar as in pasar siang?



    Until I post again,