Wafeya

Life is a serious matter.

Showing posts with label Memori. Show all posts
Showing posts with label Memori. Show all posts

Monday, January 14, 2013

Mencintai dalam diam


Kerana mencintai dalam diam itu adalah doa.

Saturday, May 02, 2009

Consequence



Ada satu ketika dalam hari-hari dewasa kita - sekarang
pasti pernah terkenangkan
peristiwa-peristiwa lucu - yang buat kita tersenyum sendirian
kadangkala memalukan - yang kita tolak jauh-jauh ke belakang fikiran
atau mengaibkan - yang cuba kita lupakan buat selamanya
segala peristiwa
yang pernah kita lakukan
sewaktu kecil
tika remaja
yang waktu itu
tidak pernah kita fikirkan
sebab dan akibatnya
naif, kata orang
melulu, kata mereka
'tak pernah nak fikir ke?' tanya ayah
'apalah yang ada dalam kepala otak budak ni?' keluh ibu
pun begitu
tidak kita endahkan
asalkan kita bahagia
dan merasa puas
ya, zaman kanak-kanak yang riang
siapa yang pernah fikir dahulu sebelum buat?
Alangkah!
Bukan salah kita.
Rupanya bahagian otak paling lambat bertumbuh
adalah bahagian
yang menimbang baik dan buruk;
kesan dan akibat -
itupun sempurna setelah
21 tahun umur kita.

Kita memang naif!



Tersenyum, teringat kisah-kisah lalu...

Friday, December 05, 2008

English : The whole new world

(Saya masih mencintai Bahasa Melayu. Sekadar melepaskan rindu dendam menulis dalam Bahasa Inggeris tiada salahnyakan?)





I remember, back in primary school where I started to learn and love English Language, my English teacher who really wanted to see her student like me getting good marks in this subject created this one game called (Oh, it really doesn't have any name actually) in which everyone must write down what's in our heart head on a draft paper in English in a given time. So, she set the seconds and there we go, writing to the full content of our heart. Sounds of pencils scribbling could clearly be heard in the silence ticking of the class big round clock hanging solemnly on the front dusty wall above the blackboard (It's an old school and that we were all too short to reach the ceiling). Then, finally the 30 seconds were up and she halted us to stop.

"Okay, who's going to read hers first?'', asked my teacher excitedly.

As expected, no hands up in the air. So, she started calling names.

"Melissa Chew".

A girl with a straight black hair tied back in one tidy ponytail stood up from her chair and started to read her paper. She got a loud applause from the class and the teacher called out another name. A girl at the back stood up and read her almost-full-paper-with-words at the top of her lung. No doubt though, she's the class debater. Then the class started suggesting some names too, mostly those who are famous or that had title (prefects, librarians, vice club presidents etc.) in the school. Someone, I remember her being a prefect at that time, stood up and read hers when her name was called out several time by the class.

"Pencils, rubber, pen, pencil box, textbooks, color pencils, rough papers, chocolates, ruler and watch", then everybody started laughing. Apparently she just wrote things she saw on her table. Clever girl. So several other names were called out and everybody proudly read theirs while I was praying silently under my breath. Don't call out my name, don't call out my name, don't call out...

"What about you, Balqis? Can you share your thought with us", she was already looking at me by the time I looked at her back.

OMG, why me? Being a respected introvert in the English class, I merely shook my head. And a surprise almost bulging round eyes stared at me back plus some weird 'uhs and ahs' sounds made from all the 42 girls in the class. Oh yeah, it’s an all girls school.

"No? What do you mean no? You don't want to share?”

I stood up slowly, unwillingly. I hold the paper steadily, removing all the fears that enveloped me, and then I read, word by word,

"I - don't - know...” stammering, I could not continue. My extremities were cold. My hands were trembling. I looked at my teacher.

"Is that all?” she asked me, half surprise and half believing. Then she walked to my table, which was not very far from her as I was sitting in the front row. She grabbed the paper and...

"That is all".

"Yeah", was all that came out from my mouth. And when I thought she was about to let out some angry words, all she said was,

"You should've tried harder. I know there are lots of thing in your head. You just cannot make it into words, right? It's okay if the grammars are wrong. It's your thinking, your thought. Who says that the grammar must be right?” and it soothed me down a bit but somehow, I can felt inside of me, the horrible guiltiness swelling up to no boundary.

The truth is - I hadn't written anything on the paper. When the 30 seconds finished, my paper was still blank. There were was nothing in my head. I was a complete blank when it comes to writing in English. What I want to say was all in Malay. How could I make the simple Malay phrases turn into English and scribble it down in just 30 seconds? Impossible. Totally impossible. The little bit I read was mere spontaneous ideas that I could think of in the niche of time to help covered my undone task.

Yes, cheating I was, it didn’t help me out from total embarrassment. Everybody was looking at me disbelievingly thinking - how could I make an easy task looked hard? It was just so unacceptable to them. It was a very bitter memory yet and one of many that I could never forget my whole life because in some way, it did changed my life. The impact wasn’t that big, but the real meaning of it, I braved myself stepping out from the safety zone I made and learn what I was once afraid to learn – the English language. Looking back from where I stood now, I could not believe that the girl was me. A denial is what I would make. I wish that I could do the game just once more and read it out loud so that everybody could hear my thought. Teacher, I don’t know what to write here, so I thought I would tell this story. If by any chance you pass by here, I couldn’t read it to you but this is what I thought and so I write it here - thank you.


Thank you for spending your precious time reading this stupid entry until the end. Sorry for the unexpected ‘lengthiness’ and 'emptiness' of this entry. No comment is fine for me because just the thought of you reading this had already made me happy. But  I'd be much happier if you would leave one! Arigatou na, minna-san!!

p/s : If you're an expert in English, please mind my grammar! (Ha-ha)



Berakit-rakit ke hulu,
Bersenang-senang kemudian,
Bersenang-senang dahulu,
Bersakit-sakit kemudian.
Bilalah nak mula ulangkaji, ni!
Isk~

Wednesday, October 01, 2008

Saya sayang kamu

Terpisat-pisat saya membaca, cuba menterjemah tiap patah perkataan yang tertera. Khali. Sejurus, mata saya terasa memberat. Menakung segala pilu, haru dan hiba lalu tumpah pecah mengalir. Mulanya hanya manik-manik kecil, kemudian menjadi aliran yang tidak putus-putus pula. Tahu-tahu skrin paparan telefon bimbit saya sudah basah. Saya baca kembali, mahu simpan, mahu semat dalam-dalam, sampai tua pun saya tidak akan lupa ini;

Kita berempat,
dari ayah dan ibu yang bersatu,
membesar dalam erat kasih dan sayang,
Ukhuwah kita kekal menyatu...
Walau ada sepalit badai melanda,
tidak keruan sebentar.
Aku dan engkau tahu,
kita sedang diuji...
Terasa berat melewati dugaan...
Sekali-sekala Tuhan terkadang mengambil apa yang pernah diberi
Seraya ingatan bahawa tidak selama nikmat kita kecapi
Suatu hari dugaan pasti bertandang lagi,
Mengetuk leka dinihari...
Kita jauh,
tapi tak sepalit ingatan dan kenangan dibiar terpadam,
Ampunkan salah dan silap duhai kakakku sayang.
Akan kutunggu raya bersamamu,
Kerana ku kepingin mengecap nikmat zaman anak-anak,
Walau usia tak sebanding keinginan.
Salam Aidilfitri.

Sajak kecil, dan tiada erti pun buat kamu yang membaca, tapi maknanya cukup besar buat saya. Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang saya perlu tulis sebagai balasan. Saya sayang kamu, adikku. Cukup kalau kamu tahu tentang itu. Saya sayang kamu. 

saat mentari perlahan-lahan berlari

dan kegelapan malu-malu menampakkan diri

sedang daun maple hampir-hampir sahaja menjejak bumi

Rechnaya Street,

Ukraine.

Monday, July 14, 2008

Jambatan emas Gunung Ledang dijumpai!

Saya terjumpa ini semasa mengemas barang-barang lama saya. Artifak zaman purba, saya kira. Saya mahu buang, tapi sayang, jadi saya taip semula dan letak di sini. Satu, saya dan kawan-kawan baca semasa Annual Dinner di sekolah dulu, yang satu lagi saya hantar ke Dewan Siswa sebelum berangkat ke Ukraine. Tapi saya rasa tidak pernah tersiar pun.

i) (Sajak ini tiada tajuk kerana saya dan kawan-kawan menciptanya di saat-saat akhir sebelum persembahan).

Di alma mater ini
Segar kita di perbatasan ilmu
Mengembarai usia yang sarat dengan pengetahuan
Sekaligus membawa kesedaran
Bahawa kitalah petualang
Wahana globalisasi bangsa
Kitalah para sarjana
Wisesa maruah bangsa
Nun di ufuk mayapada
bersama-sama kita redah rimba ilmu
Meniti titian kegagalan
Juga menara kejayaan

Terima kasih guru
Kerana kesabaranmu
Menzahirkan hakikat ilmu
Bukan hanya untuk mengenal dunia
Tapi kenal hati, kenal budi, kenal diri, kenal Tuhan Yang Esa

Terima kasih guru
Kerana dedikasimu pada setiap jejelang pendidikan
Aku tahu, bukan emas permata yang kau impikan
Waimma dunia dan isinya
Tapi hanya sekadar secenis kegembiraan
Dari kejayaan anak didikmu
Engkaulah guruku
Para wisata agung
Yang purbawisesa di sukma!

Teman
Alfun syukran kuucapkan
Atas kesetiaanmu menemani
Diriku di sepanjang perjuangan suci ini.

Terima kasih juga
Kerana kehadiranmu menceriakan warna-warni hidupku
Cinta, kasih, benci, kecewa,
Adalah suasana yang satu.

Teman
Harapanku agar
Sama-sama kita julang
Satu impian,
Satu kejayaan,
Satu kecemerlangan!

Chorus*

(Terima kasih,
Aku bicarakan,
Buat teman seperjuangan,
Yang setia berkorban,
Demi sebuah impian,
Kuutuskan lagu terakhir,
Lagu perpisahan,
Sebagai salam terakhir,
Kerana kita mungkin,
Tidak bersua lagi!)

(Lagu dipasang)


ii) Kembara Destinasi Baru

Mari teman
Aku pegang tanganmu
Ke medan yang baru
Melangkah kehidupan
Bersama selaut keyakinan

Mari teman
Aku bantu suluh jalanmu
Pedulikan retorika kelat yang lama
Pada perjalanan yang dulu
Insinuasi rencam yang kalut
Dalam hujahan kekesalan
Ini mungkin retribusi
Azab awali di bumi ini

Mari teman
Aku pimpin kamu
Hatimu kau tabahkan
Jiwamu kau pasrahkan
Akalmu kau luhurkan
Lantaran diri serba kekurangan
Bukan insan sempurna yang punya kekuatan

Mari teman
Ikut aku kawanmu
Tinggalkan kolong jahil yang hina
Selusuri jalan ini kali kedua
Pasti kau temui hikmah sejuta
Pada langkahanmu yang pertama!

Barukisu,
2003/2004

Friday, May 16, 2008

Selamat Hari Guru, guruku!

Berburu ke padang datar,
Dapat rusa berbelang kaki,
Berguru kepalang ajar,
Bagai bunga kembang tak jadi.

Kalau tidak silap saya, hari ini hari guru bukan? Sudah lima tahun meninggalkan alam persekolahan, tarikh bersejarah 16 Mei pun seperti ingat-ingat lupa. Kalau di sini, di Ukraine, Hari Guru disambut agak awal (saya lupa tarikhnya), apa pun hari bersejarah ini pasti disambut di semua sekolah di seluruh dunia tetapi pada tarikh yang berbeza-beza.

Sebenarnya saya tidak pasti bagaimana saya mengingat tarikh ini, pada hari ini, sedangkan tiada sesiapa pun yang mengingatkan saya atau membuatkan saya teringat pada tarikh ini. Saya juga tidak membuat ‘reminder’ seperti kebiasaannya di mana saya akan tulis nota kecil seminggu atau beberapa hari sebelumnya supaya saya tidak lupa mengucapkan selamat hari guru kepada guru-guru saya. Tahun-tahun sebelumnya, sewaktu saya mula-mula belajar di Ukraine ini, kawan-kawan sering mengingatkan saya pada tarikh bersejarah ini dan kami selalu merancang untuk menghantar kad hari guru ke sekolah lama. Kini, mereka pun sudah lupa mungkin. Sebenar pasti, malam sebelum saya tidur neuron-neuron lama di lobus temporal saya aktif menyambungkan kembali laluan-laluan yang menyimpan memori ritual Sambutan Hari Guru yang diadakan setiap tahun ini. Dan saya, lantas menjadi peka serta-merta, menggarap idea untuk menulis di sini. Saya tidak pernah menulis untuk guru, dan sekali ini, saya mahu menulis untuk mereka, guru-guru saya.

Saya membesar dengan dikelilingi oleh guru-guru. Ayah saya seorang guru, mak cik dan pak cik saya juga merupakan guru-guru yang berdedikasi. Bila mereka berkumpul sekali-sekala mereka akan berkongsi pengalaman mengajar masing-masing dan saya turut bersimpuh mendengar kisah-kisah pahit manis mereka sepanjang menjadi guru. Sambil bercerita, mereka akan menyelitkan sekadar dua nasihat untuk saya dan adik-adik, memberi contoh seorang dua pelajar yang berjaya dan seorang dua pelajar yang nakal dan degil. Saya hidup dan membesar dengan cerita-cerita tentang guru dan dunia perguruan seakan sudah sebati dalam diri dan jiwa saya sehinggakan kadang-kadang saya pernah membayangkan bahawa suatu hari nanti saya akan menjadi seorang guru bersama cermin mata tebal, sebatang kapur di tangan dan pembaris panjang kuning di atas meja. Gambaran guru seperti ini mungkin sudah tiada lagi di abad ini, ah!

Dahulu guru diibaratkan seperti lilin, menerangi orang lain tetapi membakar dirinya sendiri. Saya tidak perlu ambil contoh yang jauh, cukup saya melihat kehidupan ayah saya sebagai seorang guru. Tiap kali pulang ke rumah, wajah ayah sudah cukup memberitahu bahawa hari ini ada pelajar yang tidak siapkan kerja rumah, ada pelajar yang ‘tuang sekolah’ sesuka hati, atau hari ini ada pelajar yang mendapat markah cemerlang. Saya tahu ini kerana apabila ayah marahkan kami kerana tidak mahu belajar ayah akan berleter mengenai fe’el dan hal kerenah pelajar-pelajarnya di sekolah. Semangat perguruan ayah di sekolah akan tempias kepada kami adik beradik di rumah. Mujur ibu saya bukan seorang guru juga. Kini, saya senang mendengar ayah bercerita sambil tersenyum mengenai anak didiknya, yang seorang itu telah menjadi doktor, yang seorang lagi nun di negara orang menuntut ilmu, yang seorang itu pula walaupun tidak berjaya ke mana-mana tetapi apabila bertemu ayah pasti akan mengucap salam dan bertanya khabar itu dan ini.

Saya tidak tahu bagaimana kedaannya dunia perguruan dan persekolahan kini, tapi sejak saya di sekolah menengah lagi, banyak kisah pelajar tidak menghormati guru atau guru mendera pelajar menghiasi tajuk-tajuk utama berita di televisyen dan akhbar. Saya tidak mahu bercerita mengenai kisah-kisah itu kerana saya pasti kamu juga tahu dan saya lagi berasa sakit hati bercerita mengenainya.

Bagi saya, guru itu lilin dulu, kini dan selamanya. Selama mana seorang guru itu prinsipnya mengajar, mendidik dan membentuk generasi demi generasi anak bangsa sehingga kini, selama itu dia adalah seorang guru yang saya akan hormati sampai bila-bila. Saya mengenal huruf-huruf dari seorang guru, mula belajar mengira dari seorang guru, sampai saya tahu menulis seperti ini seorang gurulah yang telah menunjuk ajar saya dahulu. Kalau perlu saya sebutkan beberapa nama guru-guru sekolah rendah saya, antaranya Puan Vimala, Miss Menon, Puan Fatimatuzzahrah, Ustazah Fauziah dan ramai lagi yang saya masih ingat rupanya tetapi lupa namanya. Mereka antara guru yang tidak jemu memberitahu saya supaya terus belajar dan belajar dan saya tidak akan lupa pesanan itu.

Saya rasa saya masih ingat semua nama guru-guru yang mengajar sewaktu saya di sekolah menengah rendah. Masakan saya lupa pada mereka yang sering mengingatkan bahawa saya perlu menjadi seorang doktor kerana pada waktu itu kita kekurangan doktor muslimah untuk menyambut kelahiran anak-anak orang Islam. Saya sekadar mengangguk sahaja kerana saya sendiri tidak pasti aliran mana yang perlu saya pilih waktu itu. Saya juga tidak lupa kepada guru-guru menengah atas saya yang tidak jemu-jemu bersabar dengan saya yang sering sahaja tertidur di dalam kelas. Pernah guru Kimia saya Cikgu Razif, mempercikkan air suling yang sejuk ke muka saya sambil berkata ‘ Kau mahu belajar atau tidak, asyik tertidur sahaja’. Dan malunya saya selepas itu, sampai bila-bila pun saya tidak tidur lagi di dalam kelas kimia. Cikgu Razif terkenal dengan kata-katanya waktu awal-awal kami mula belajar kimia bersamanya, ‘Kalau kau mahu berjaya, kau perlu jadi gila, semua orang yang berjaya, dulu dia belajar dan berusaha gila-gila. Kalau kau tak gila, jangan harap kau boleh berjaya’. Seluruh kelas ketawa mendengar amanat dan pesanannya tetapi Cikgu Razif hanya membalas selamba, ‘Eh, aku serius ni…’

Itu antara memori yang tidak dapat saya lupakan sehingga kini dan saya tidak mungkin akan lupakan jasa-jasa guru yang telah mengajar dan mendidik saya, walau kini saya jarang-jarang melawat sekolah lagi dan jarang-jarang bertemu dengan guru-guru saya. Khabarnya ramai yang telah tiada dan berpindah ke sekolah lain. Walau apa pun istilah guru itu pada hari ini, ertinya guru itu pada saya adalah yang tetap terus mendidik tanpa pernah kenal jemu dan lesu. Pengorbanan guru ini mungkin tidak terasakan oleh kita yang berlainan profesyen, tetapi sekurang-kurangnya dengan menghargai mereka pada hari yang bersejarah ini saya rasa sudah cukup untuk kita mengetahui bahawa pengorbanan mereka bukanlah sekadar sehari dua kerana mereka tidak menghitung dengan wang dan nasib tetapi dengan percaya bahawa mereka memikul amanat paling agung; mendidik anak bangsanya mengenal bangsanya, negaranya dan agamanya!

Saya tidak menulis sajak untuk mereka, betapa pun saya menghargai mereka, saya masih belum mampu mengekspresi penghargaan saya kepada mereka melalui sajak. Suatu hari nanti, mungkin! Jadi saya bacakan sajak yang ‘tak lekang dek panas, tak lapuk dek hujan' ini, karya Allahyarham Usman Awang. Dengarkan, ya!


Dialah pemberi paling setia
Tiap akar ilmu miliknya
Pelita dan lampu segala
Untuk manusia sebelum jadi dewasa.

Dialah ibu dialah bapa juga sahabat
Alur kesetiaan mengalirkan nasihat
Pemimpin yang ditauliahkan segala umat
Seribu tahun katanya menjadi hikmat.

Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa
Jika hari ini seorang Raja menaiki takhta
Jika hari ini seorang Presiden sebuah negara
Jika hari ini seorang ulama yang mulia
Jika hari ini seorang peguam menang bicara
Jika hari ini seorang penulis terkemuka
Jika hari ini siapa sahaja menjadi dewasa;
Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa
Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.

Di mana-mana dia berdiri di muka muridnya
Di sebuah sekolah mewah di Ibu Kota
Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu
Dia adalah guru mewakili seribu buku;
Semakin terpencil duduknya di ceruk desa
Semakin bererti tugasnya kepada negara.
Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, guruku
Budi yang diapungkan di dulangi ilmu
Panggilan keramat "cikgu" kekal terpahat
Menjadi kenangan ke akhir hayat.

USMAN AWANG
1979

khas buat guru-guru saya di :


SK (1) ASSUNTA, PETALING JAYA
SRA TAMAN DATO’ HARUN, PETALING JAYA
SMA MEDAN HARUN, PETALING JAYA
SMAT TENGKU AMPUAN JEMAAH, SHAH ALAM
SAM BESTARI, SUBANG JAYA
MCIIUM, PETALING JAYA
INTEC, SHAH ALAM
CSMU, SIMFEROPOL, UKRAINE

Untukmu guruku, aku menulis!
BalQis,
Rechnaya Street,
Simferopol,
Ukraine.
5.26 am

Tuesday, November 07, 2006

Mom, you're the best!!

It was a stupid idea of mine. I was totally tired of doing my Internal Disease notes, ten pages and my fingers are like stone, so cramp it can't move normally, what else with my already fatigue arm due to its overusing during our badminton practice last Sunday (it was actually our physical training time which was supposed to be our basketball training but coincidently there was a University Closed Badminton Tournament and the Badminton couch somehow let me play with HER OWN RACKET). How fortunate, i thought. So now, i'm suffering from an overstrain of right arm, hyperfunction, i guess.

So, I stopped for a while, stretched my arm, took a deep breath and looked at my notebook's monitor screen. Emptiness. Time for some exploring. I don't know what and where to start, and this childish idea came to my mind. I typed my full name on google and clicked the search tab, eager to find out what will appear on the screen. This is otherwise known as 'perasan or syok sendiri'(dunno what's the term in english). Approximately 1.5 sec later, lots and lots of names similar to mine was visible. I tried to find the most close to me, which describe me or at least which have something to do with me....

And, aha....

Here's one, unbelievable to my own view, i clicked on the stated web address and....


My name is on the third line under SPM 2003
(click the image above for the site's link)

saw my name listed down together with other students who got excellence in their SPM exam. Wow, this was long time ago, almost 4 years had gone and it was still here? As if i can't believe what i saw, i read on and finally it became crystal clear to me. This was some appreciation or rather a somekind of congratulation ceremony for children whose parents are the members of PUSPANITA. As long as I remember, I've never been to one, ever since my PMR result came out. Yeah, I remember clearly now, it was MY MOM who went and took the certificate twice, (one in 2002 and 2004) instead of me who was still in school/matriculation and can't attend the ceremony.

And now, remembering all those past memories, brought tears to my eyes. I don't care about my name on that site, what i care now is my mom. I can't remember if I ever said thank you to her for taking her own time and replacing me for both the ceremonies i never had the chance to attend. I know every mom in the world would do the same for their children. That is just one reason (out of thousands and thousands of other reasons) why I love my mom very much forever and ever and now being millions of kilometers away i really miss her too.
Looking with teary eyes at my own name on the screen, there was a silent whisper of appreciation inside me to my far away beloved mother.


Thank You, Ibu.

Yeah, it was a long ago story, the old ME, the ME that I used to be.

And now, i don't know why i'm being such a lazy daisy, i don't know where my hardworkingness (is it exist such word?) have gone.

Okay, enough, enough, enough. I'm outta here. Have to finish my notes, right? Wish me all the best for tomorrow and the day after, for I not know what lay in front of me, better or worse only He knows.

Wassalam.

p/s : Another time u're getting bored, just typed your own name and google search, sometimes what you find will surprise you. I just did. =>

Thursday, September 07, 2006

A looks into Grandma's eyes

Almost three weeks staying at Grandma house made me understand what life is when we grow older.

It's ironic to think that we're still young when every year our age add up and never go down. Ah, as if!

Grandma used to be a very beautiful young lady in a time long ago i was not yet born. I didn't know so much about grandma, but she once was a teacher at a relegious school back when i was between 4-5 years old. I remembered my dad send her to the school where she taught once.
She's very strict with her four daughter, loves cooking a lot ( I remember how she made me some 'roti canai' in the early morning, hot spicy curry puff, pau and a lot others delicacies). She liked gardening very much (she used to have gardens in the backyard and at the front where she planted the guava, mango, coconut palm trees, vegetables, raised chicken.....). She knew how to sew, to knit and to make a sweet, little, chubby pillow for me when i was a baby until i'm 2 years old. She took care of me when i'm little, one thing that i wont forget foerever.

But know she's a diabetic, a disease that took all of her talents and memories away. She couldn't even remember her grandchildren names, forgot where she put things, and having difficulties in talking. If u could just look into her eyes when talk, u could understand how painful it is to muster some words into phrases to make others understand.

Today, she didn't cook, nor did she do any gardening. Everyday she take almost 20 pills before and after meals. Every night she receive one insulin injection which was made by me! (when i lived at her house, of course!). How painful.... =<

I don't understand how this one disease could disable her from everything (in term of un-medical thinking).

It's life, yeah...
now, u're sweet, charming little child, then u're the happy, joyous teenager, after that u become the beautiful/handsome young lady/man, then u become a dad/mom, have children, grandchildren, by Allah's will u become old and finally just waiting for the calling of God.

Is that life?
If it is, it's so much simple.
Who said life is complicated then? (again in un-medical term).

So...that's it?

No...

"I created jinn and humankind so that they might worship Me."
(51:56)

Final....

Go home and do the math your own! ;)