Wafeya

Life is a serious matter.

Thursday, June 17, 2010

Cukup satu waktu untuk satu cinta

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar.


Picture credit to .jpg

Alhamdulillah, telah selesai imtihan terakhir di bumi asing, Ukraine ini. Sujud syukur atas segala nikmat-Mu Ya Allah. Atas sebuah perjalanan yang telah Engkau tentukan sejak dari awal sehingga ke hari ini; perjalanan yang ditemani air mata, terkadang gelak tawa, jua keluh kesah, kekecewaan dan kemenangan, perjalanan yang tanpa sedar sedikit-sedikit mendewasakan dan mematangkan seorang insan kecil yang tidak punya apa-apa ini.

Gabungan rasa entah apa hadir menyelubungi. Ada rasa kekosongan yang dingin hening mengisi sudut hati - sunyi - yang terdengar hanya suara alam bertasbih selang-seli sayup-sayup beralun nun di hujung horizon. Alam yang tak pernah luput rasa cintanya kepada Yang Maha Pencipta. Di luar, kasih sayang Tuhan melimpah ruah - titis-titis hujan lebat mencurah - sejuk, menyamankan dan aku, jiwa penuh rasa sepi dan hina-dinanya memeluk erat-erat rahmat Tuhan ini tanpa segan silu lagi. Terima kasih Tuhan, kerana tak pernah membuat aku rasa keseorangan. Biar sedetik pun. Kau sentiasa hadir menemani.



Dan entah bila, tahiyatku bergetar. Perlahan-lahan kotak jiwa dihenyak rasa sebak - terasa hangatnya rindu. Cinta pun hadir semakin membara-bara. Bertuturlah ia menyebut satu nama. Semoga tidak terpadam sehingga akhir hayat. Selamanya cintaku hanya untuk-Mu. Semoga tetaplah aku di jalan-Mu, ya Allah. Cukup satu waktu untuk satu cinta.

Tuhan, kerana Engkau terlalu indah - aku menangis sepuas-puasnya.

*******
"Di sekitar kita ada kawan yang selalu hadir sebagai pahlawan". Edensor.

Dedikasi buat kalian yang bergelar kawan, teman, rafiq dan sahabat di mana jua berada, terima kasih atas sokongan dan doa yang tak pernah putus-putus, dalam nyata mahupun dalam diam sepanjang mengenali diri ini. Untuk kalian teman-temanku, sebahagian kebahagiaan ini ingin kukongsikan - tanpa kalian barangkali kehidupan ini hanyalah jalan tandus tanpa pepohonan rendang yang meredupkan dan tanah gersang tanpa wadi yang menghilangkan dahaga kala kepenatan. Terima kasih kerana sudi hadir menceriakan jalur-jalur hidupku di sepanjang perjalanan ini. Aku pohon, semoga kalian beroleh rahmah dan keberkatan-Nya sepanjang kehidupan kalian. InshaAllah. Kalian, terima kasih, ya! Sungguh!




Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang,

Thursday, June 10, 2010

Sambil-sambil cicah biskut dalam teh...

Petang-petang begini dengan cuaca begitu indahnya memang tidak memungkinkan ulangkaji berlaku dengan bersungguh-sungguh. Entah telah musim sayf ataukah masih musim rabi'. Angin tidak bertiup dan mentari memancar galak. Mawar berkembang riang. Warna-warninya mengusik indera yang memerhati. Di sini pepohonan mawar tumbuh bagai lalang. Tidak perlu dijaga, tumbuhnya begitu sahaja. Mawar liar barangkali. Pun begitu, alangkah cantik dan anggunnya mawar liar memenuhi halaman dengan pelbagai warna garang. Merenung sedemikian lama, menyentuhnya belum berani, bukan takut tercucuk duri, tetapi bimbang digelar perosak keindahan alam oleh tuan punya halaman. Lalu, bertuahkah menjadi sang mawar? Entah.

Petang-petang begini mahu tenang-tenang dahulu sebelum menyambung kembali pembacaan. Justeru, suka-suka mahu kongsi di sini, sembang-sembang berisi penuh bijaksana antara Abu Qubaisy dan murid-muridnya,

"JANGANLAH kalian beribadat karena menginginkan masuk surga. Dan jangan pula kalian beribadat karena menghindari neraka," kata Abu Qubaisy membuat beberapa muridnya terhenyak kaget.

Ketika membuka majelis taklimnya sore itu, guru besar yang disegani tersebut bukan menyampaikan kata pembuka, tetapi langsung menyilakan murid-muridnya mengajukan masalah atau topik yang mereka inginkan dibahas di majelis itu. Salah seorang dari mereka kemudian bertanya mengapa beribadat itu sering terasa berat. Untuk itulah guru besar tersebut memberikan jawaban yang membuat sebagian besar muridnya terhenyak kaget.

"Tapi bukankah Allah yang Maha Pemurah itu menyediakan surga untuk orang-orang yang beribadat dengan baik, Tuan?" tanya murid lain dengan kalimat mengandung sanggahan.

"Benar. Tetapi bila Dia yang Mahakuasa itu memasukkan orang-orang yang beribadat ke dalam neraka, ke mana dan kepada siapa orang dapat memprotes?" ujar Abu Qubaisy dengan kalimat yang kembali mengagetkan beberapa muridnya.

"Karena itu lakukanlah ibadat dengan niat memenuhi perintah-Nya saja. Dengan niat mendekatkan diri kepada-Nya. Bukankah sufi besar Al-Adawiyah berdoa agar Allah tidak masukkannya ke dalam surga bila ibadatnya dengan tujuan itu. Kata Al-Adawiyah, dia beribadat kepada Allah karena cinta. Ketahuilah Allah mencintai orang yang mencintai-Nya, dan para pencinta akan memberikan apa pun miliknya untuk yang dicintainya," kata mahaguru yang luas ilmunya itu sambil senyum.

"Lalu apa pula salahnya bila seseorang beribadat dengan maksud agar tidak dimasukkan ke dalam neraka?" tanya murid lain dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Orang yang beribadat karena menginginkan surga, pasti takkan beribadat bila tidak ada surga. Demikian pula dengan yang takut kepada neraka, takkan beribadat bila neraka tidak ada. Padahal Allah Swt menyatakan Dia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Nya," kata Abu Qubaisy seraya mengakhiri taklim. Murid-murid yang mendengarnya pun mengangguk-angguk paham.

Yuk, kita kejar redha Allah!

******



Kira-kira pitih, kenapa macam tinggal sedikit sahaja ni, rasa macam baru semalam je bawa keluar. Haih, dunia, dunia. USD jatuh, Euro jatuh. Hurm...


Ada kaitan... kot? Entah.




Menghitung hari,

Sunday, June 06, 2010

Sejadah Panjang

Serius. Memang sukar memulakan pembacaan apabila tarikh peperiksaan masih jauh. Dua belas hari lagi. Tiga mata pelajaran sekali serentak dalam sehari. Maka sepatutnya berbaloi sudah masa yang diberi untuk ulangkaji ketiga-tiganya. Tetapi menghadap nota seperti menghadap kertas kosong. Ah, sukarnya menetapkan hati. Sedang deretan nota-nota yang menanti untuk dibelek sangat mencungkil rasa bersalah setiap kali terpandangkan. Rasa bersalah terhadap waktu, rasa bersalah terhadap ilmu, rasa bersalah terhadap kewajaran masa depan dan tentu rasa bersalah paling agung terhadap Tuhan; yang memberi pinjam segala. (Rasa bersalah mungkin tidak layak digunakan bila berhadapan Tuhan. Rasa berdosa. Ya, itu setepatnya. Allah tuhanku, ampunkan aku atas masa-masa yang terbazir begitu sahaja. Amin)

Tolak ketepi sebentar segala nota. Pejam mata dan tarik nafas panjang-panjang. Gaya seperti sudah banyak sangat membaca walhal helaian kertas yang bertanda masih senipis kertas tisu. Hakikat. Telan dalam-dalam hakikat ini. Biar rasa pahitnya berdesing sampai ulu hati. Waktu itu, barangkali baru sedar, betapa kelat pahitnya yang bernama hakikat. Pahit kerana dalam sedar tahu betapa lemahnya iman. Sedang kesusahan yang dihadapi hanyalah pada menghabiskan pembacaan. Alahai, apa sangatlah mahu dibanding dengan kelaparan, kebuluran, kemiskinan, penyakit melarat menunggu mati, dan tanah air dirampas orang? Ya Allah hai, jauh nun ibarat kerak bumi dengan galaksi bima sakti. Hakikat.

Mudahnya bermain kata di sini. Sebenarnya mahu sedapkan hati. Kerana tidak bisa meneruskan membaca, maka barangkali mungkin bisa menulis. Walaupun tiada apa yang hendak dibicarakan, sekurang-kurang biar huruf-huruf ini menyusun dirinya sendiri agar segak berbaris memberi patah-patah kata yang punya makna dan bererti yang kalaupun tidak tersampai di hati, sekurang-kurang ia terhenti di akal untuk difikir, disimpan dan diingat. InshaAllah. Ini, bacaan untuk diri sendiri.

******************
Membaca catatan teman-teman senior tentang kehidupan setelah bergelar housemanship, terasa gelap masa depan. Seakan hilang segala cahaya kebahagiaan. (Wah, wah melampau sungguh hiperbolanya di sini) Perhatian sangat-sangat, kata-kata ini adalah kata-kata orang yang tidak berusaha bersungguh-sungguh jadi rasa sangat takut untuk hadapi hari depan dengan berani.

*Er, tiba-tiba ada orang angkat tangan perlahan-lahan dengan takut-takut*

Tak
apa Dr. Balqis, awak boleh turunkan tangan awak.

Dalam Al-Hadid ayat ke-21, telah cantik Allah berfirman yang bermaksud,

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.

Ayat ini merupakan sindiran pedas dan peringatan Allah untuk mereka yang menjalani kehidupan untuk hidup. Allah SWT pada ayat ini menyatakan satu kitaran kehidupan yang sangat indah, sebuah hakikat kehidupan, realiti kehidupan, makna kehidupan bagi mereka yang hidupnya sekadar untuk hidup.


Perhatikan bagaimana Allah mulakan dengan perumpamaan dunia sebagai permainan. Cuba kita lihat anak kecil, apa erti kehidupan pada mereka? Bagi mereka, semua yang dilihat adalah permainan. Apa sahaja yang tidak dibuat main, segala pasir, pisau pun dibuat main. Nah, ini maknanya perumpaan Allah, dunia itu hanya sekadar mainan seperti anak kecil menanggapi objek-objek yang berada di sekelilingnya.


Kemudian lanjut usia, meningkat remaja. Apakah makna hidup bagi majoriti remaja hari ini? Bukankah hidup bagi mereka untuk berseronok-seronok sahaja? Perhatikan frasa kedua yang Allah gunakan setelah la’ib, Allah letakkan lahwun iaitu sia-sia. Inilah kitaran kedua hidup manusia, sia-sia dan melalaikan. Hidup merempit, melepak, buang masa dan berfoya-foya.

Kemudian meningkat usia lagi, Allah nyatakan kitaran seterusnya, wa ziinah. Apa makna kehidupan bagi mereka yang telah meningkat dewasa, yang sudah bekerja, menjadi usahawan, doktor, majistret, lawyer, ahli muzik dan sebagainya? Ziinah, iaitu perhiasan. Inilah kitaran ketiga kehidupan manusia iaitu dunia sebagai perhiasan; mula berhajat untuk memiliki kereta mewah, barang kemas, rumah-rumah yang indah, pakaian-pakaian yang cantik. Jika itu yang difikirkan sebelum kita bekerja, maka kita sudah masuk dalam kitaran ini.


Kemudian setelah berkahwin dan berkeluarga, semakin meningkat usia, apa makna kehidupan bagi golongan umur ini? Watafakhuru bainakum- bermegah-megah antara kamu serta, watakathurun fil amwaali wal aulaad - berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Hidup hanya sekadar untuk mengumpul harta dan berbangga-bangga dengan pencapaian anak. Inilah kitaran keempat kehidupan manusia, tiada lain hanya berbangga-bangga dengan pencapaian duniawi.


Makanya ini kitaran kehidupan bagi mereka yang sekadar hidup untuk hidup, yang Allah umpamakan sebagai tanaman yang subur pada mulanya, tetapi kemudian hancur kerana semuanya hanya sementara sahaja.


Akhirnya di pengakhiran ayat, Allah menyimpulkan kehidupan dunia yang kitarannya begini, hanyalah sebagai mata'. Apa itu mata'? Imam Malik merantau ke kampung pedalaman untuk mencari makna mata' bagi masyarakat Arab asal. Akhirnya beliau temukan, apabila seorang budak menjerit memberitahu padanya, “hadza mata', hadza mata'”, seraya menunjuk ke arah sisa-sisa buangan sampah sarap yang busuk.

Nah! Inilah hakikat dunia pada pandangan Allah, bagi manusia yang menjalaninya mengikut kitaran seperti di atas. Kesenangan yang menipu.

Maka apa kena mengena dengan masalah Dr. Balqis tadi?

Jika hidup hanya sekadar untuk memenuhi syarat-syarat kehidupan – belajar bersungguh-sungguh, bekerja berhempas pulas demi mencapai expectation tinggi manusia, maka semua perkara menjadi sukar dan payah kerana apabila tidak dapat melepasi semua expectation tersebut, diri menjadi sangat mudah putus asa dan hilang harapan. Mengejar dunia yang rupa-rupanya hanyalah sampah sarap yang busuk.

Lantas Allah memberikan solusinya dalam surah yang sama ayat seterusnya,


“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”.


Kita lihat, Allah memotivasikan kita dengan seruan-Nya - berlumba-lumbalah. Allah tidak menyeru kita supaya merangkak atau berjalan, tetapi Allah menyeru kita supaya berlari! Bersegara, berlumba-lumba dalam maraton ini, menuju kepada kehidupan abadi, hidup untuk mati. Inilah kehidupan yang sebenar, kehidupan untuk mati. Hidup untuk syurga. Keluar dari kitaran dunia yang digelari Allah sebagai sampah, tetapi justeru, masuk ke dalam kitaran hidup dunia dengan perlumbaan mendapatkan keampunan dari Allah dan syurga seluas langit dan bumi. Subhanallah. Terbaikkan? Terbaiklah.


Bagaimana?


Dengan mengabdikan diri, segala pekerjaan dan kehidupan mencari redha Allah. InshaAllah, kerja bukan kerana manusia tetapi kerana Allah. Biar kita bekerja dan hidup, menjadi Rahmatan lil A'lamin. Biar pekerjaan kita kelak menjadi sejadah panjang pengabdian kita kepada Allah. Amin, ya Robb.




Faham Dr. Balqis?


Alhamdulillah. Syukran.


Aiwah. Khair. Ha, bolehlah sambung ulangkaji nota, ya? Banyak lagi belum bacakan? Cukup-cukuplah menghadap monitor ini dan terbazir masa begitu sahaja. Buat rosak mata sahaja. Usahakan untuk lebih rajin, konsisten dan istiqamah. InshaAllah. Selamat berjaya dalam peperiksaan. Bittaufeeq wannajah, InshaAllah.

************************


“Shaytan will come at you with that which you love, even if it is the deen” –Abu Hafsa-

Wallahua’lam.



Oh. PR, PR. Upgrade your PR please, doc. You are working with human, not machine.


Catatan kecil editor: Kasihan Balqis, menjadi watak yang sangat mengecewakan dalam entri kali ini. Doakan supaya beliau pulih dari kemalasan yang kronik. Dia ini memang perlu belajar seni bercinta dengan Tuhan. Mudah-mudahan. InshaAllah.



Menghitung sisa-sisa akhir hidup di Ukraine - membaca catatan adik Haniff tentang perantau - terasa sangat sekejap masa berlalu. Allahuakbar.

Thursday, June 03, 2010

Siap-siaplah



Lega. Susun buku-buku dan nota-nota untuk peperiksaan seterusnya. Meja sudah separuh bersih. Cerah. Sebelum nanti menjadi huru-hara semula seperti muka buku pasca serangan militan Israel ke atas Mavi Marmara. Semalam dan kelmarin, kemas kini status penuh caci maki untuk Israel. Hari ini, bersih. Adalah sebaris dua yang tinggal - ingat-mengingatkan - memperbaharui kemas kini situasi semasa yang berlaku di sana. Kemudian, jadi tiada langsung. Kembali seperti 'biasa-biasa'. Seakan perjuangan ini semua bermusim. Lalu kita wajar bertanya, demi agamakah atau apakah, segala laungan kita itu?

Boleh tanya hati sendiri. Sila.

Tahun lepas, sewaktu Gaza diserang hebat jet pejuang Air Force, saya dan teman-teman diasak imtihan pertengahan semester. Dan doa menjadi lebih panjang; untuk diri juga untuk saudara-saudara di Gaza, semangat jadi lebih membara; mereka berjuang, kita juga harus berjuang, mereka berjihad menumpah darah, kita berjihad juga menumpah dakwat bencah. Tahun ini, kebetulan apakah jua - Gaza, saya dan imtihan?

Tidak perlu bersoal panjang, cukup satu soalan - untuk apakah sebuah negara haram seperti Israel itu wujud?

Dari kejatuhan khilafah Uthmaniyyah sehingga kini, satu jawapan cukup pedas akan kita temui.

Untuk kita.

Ya, untuk kita bisa menjadi seperti Umar Al-Khattab. Seperti Salahuddin Ayyubi. Seperti Al-Fateh. Seperti Tariq, seperti Abu Ubaidah dan seluruhnya yang ikut berjuang atas agama Allah. Atas nama Allah.

Bukan calang-calang, deh!

Sebab itu musuh juga bukan calang-calang. Israel. Si kera yang degil.

Kita bukan tidak punya kekuatan. Andai dikumpul sekalian umat dan sumber tenaga, InshaAllah kita mampu menang. Tetapi, kita telah kalah sebelum berlawan, kalah dengan musuh dalaman - diri sendiri; kuasa, hawa nafsu dan syaitan.

Selagi belum mampu membawa diri, mimpilah untuk membawa panji-panji.

Maka, benarlah kata-kata seorang aktivis Indonesia yang ikut berjuang atas Mavi Marmara, Santi Soekato;

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan - bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.
Teman, perjuangan ini bukan bermusim, bukan hanya emosi dan sensitiviti, perjuangan ini panjang, berterusan dan jauh. Jalannya payah, geraknya susah tapi yakinlah, janji Allah itu pasti.

Siap-siaplah.

Allahumaj’alni minat tawwabiin…
Allahumaj’alni minal mutatahirin…
Allahumaj’alni min 'ibadikas-salihin…




Bukankah Allah telah mengatakan bahawa tanah sekeliling Al Aqsha itu diberkahi-Nya? Terasa betul, bahawa salah satu keberkahannya adalah ia menyatukan kita.

Monday, May 03, 2010

Kasut




Kasut

terima kasih duhai kasut

kerana temaniku

di setiap jalan

kau gagah

tak pernah lelah

namun akulah

yang cepat lemah

sering capek

menerus tapakan

di setiap berhentinya

langkah perjalanan



Tarik nafas panjang-panjang,

Wednesday, April 14, 2010

Umpama melepaskan batok di tangga

(Sekadar selingan di celah keripuhan)

Tentu kalian pernah mendengar peribahasa ini bukan - umpama melepaskan batuk di tangga - yang membawa maksud
orang yang membuat kerja dengan tidak sempurna atau hanya ambil syarat atau dengan kata lain membuat kerja tidak bersungguh-sungguh. Mungkin boleh disamakan dengan hangat-hangat tahi ayam, dipegang panas dicium jangan.

Tetapi apa yang terbayang di kepala saat menggunakan peribahasa ini? Seseorang yang menaiki atau menuruni tangga dan melepaskan batuk di tengah tangga? Ini yang terlintas di kepala lewat mengenali dan diajari peribahasa-peribahasa dalam bahasa ibunda tercinta ini sewaktu sekolah dahulu. Acapkali merasa ada yang tidak kena antara bayangan di kepala dan maksud yang dibawa peribahasa tersebut. Sebuah e-mail yang saya terima (entah berapa lama tersimpan dalam lelaci kotak masuk akaun) menjelaskan semuanya. Suka untuk saya berkongsi - samada kalian sudah tahu atau belum - apa sebenarnya umpama melepaskan batok di tangga.

Sebenarnya kawan-kawan, bukan melepaskan batuk tetapi batok. Disebabkan perubahan ejaan batok ini kepada batuk menjadikan ramai golongan muda tidak tahu apa sebenarnya batok yang dimaksudkan dalam peribahasa ini.

Batok yang dimaksudkan bukanlah batuk “uhuk..uhuk” seperti yang kita sakit itu. Batok ini ialah penyeduk air yang diperbuat daripada tempurung yang digunakan pada zaman dahulu kala di rumah datuk nenek kita untuk menyeduk air di dalam tempayan buat membasuh kaki sebelum naik masuk ke dalam rumah.

Selepas kita gunakan batok tersebut, sepatutnya diletak semula di dalam tempayan atau di atas penutup tempayan dan bukan hanya ditinggal di atas tangga sebegitu sahaja. Maksud jelasnya ialah kita tidak menyelesaikan kerja dengan habis sempurna. Begitu.

Inilah rupa batok tersebut.

Selepas tahu ini, memang ada rasa banyak kekurangan pada penguasaan bahasa Melayuku. Ish.



Majulah diri sendiri, bahasa dan negara untuk agama,

Saturday, April 10, 2010

Selembut rebung, sekeras buluh




Benar, melentur buluh biarlah dari rebungnya. Lembut dan mudah dibentuk. Setelah menjadi buluh, bikinan apa pun, payah mahu dibentur, melainkan ditetak, diambil jualah dibuat meriam. Pun begitu teman, beritahu padaku, benar payahkah melentur setelah rebung keras menjadi buluh?

Ada sebuah kisah berharga dipetik dari hadith yang diriwayatkan oleh Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasai’ yang bisa dikongsi dan diambil pelajaran bersama. Kisahnya begini...

Al-Ghamidiyyah adalah sosok wanita sahabat yang hidup di Madinah dan bersuami dengan lelaki sahabat. Bayangkan, ia belajar Al-Qur’an dengan kedua telinganya dari lisan Rasulullah SAW, berIslam di tangan Nabi SAW dan hidup di Madinah. Setelah semua itu, ia berzina. Bayangkanlah!

Ia berzina, tetapi ia punya keinginan bertaubat, maka ia pergi kepada Rasul SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah berzina, dan kini aku sedang hamil. Sucikanlah aku, ya Rasulullah.”

(Perhatikanlah kalimat “Sucikanlah aku, ya Rasulullah!” Lihatlah yang dosa mereka menguasai hati dan fikiran mereka selama puluhan tahun. Al-Ghamidiyyah sekali berbuat salah, tetapi ia ingin bertaubat.)

Rasulullah SAW bersabda, “Pergilah sampai anakmu lahir, lalu datanglah kepadaku!”

(Apakah kita tahu, apa yang akan diperoleh penzina yang bersuami? Hukum rejam sampai mati! Ia menjadi tercemar, suaminya menjadi tahu dan keluarganya pun tahu. Tetapi menyucikan diri lebih utama)

Kemudian Al-Ghamidiyyah kembali setelah sembilan bulan. Keinginan taubat di hatinya masih membara. Ia hanya mendengar beberapa kalimat dari Rasulullah SAW.)

Setelah sembilan bulan ia datang sambil membawa anak kecil seraya berkata, “Sucikanlah aku, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Pergilah hingga kau menyapihnya.”

(Apakah masuk akal? Ia akan menunggu dua tahun setelah menunggu sembilan bulan? Ia akan menunggu dan ia hanya berfikir, “Aku ingin menyucikan diri.” Hal ini tidak sesuai dengan kondisi kita, kerana hukum hudud tidak ditegakkan, sehingga taubat hanya dilaksanakan dengan tiga hal – menyesal, menghentikan dan bertekad kuat untuk tidak akan mengulanginya.)

Setelah dua tahun, ia melihat anaknya sudah mahu memegang roti, maka segera ia mengerti bahawa anaknya sudah mampu disapih, iapun datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Bunuh dan sucikanlah aku.” Rasulullah bersabda, “Berikan anak itu.”

(Siapa yang lebih mahal, anak atau ibu? Anak itupun diambil, tetapi lihatlah pada masyarakat ketika itu yang mempunyai ukhuwwah yang mantap. Apa yang mereka katakan kepada anak tersebut? Adakah anak penzina? Tidak! Orang Islam tidak akan mengatakan pada anak mereka dengan perkataan itu.)

Rasulullah SAW mengangkat anak itu, lalu berkata, “Siapa yang mahu menjamin anak ini, ia akan menjadi pendampingku di Syurga!” Anak itupun diambil dan Al-Ghamidiyyah pun direjam.

(Ia adalah seorang wanita, yang kalau sahaja ia lari daripada batu tentu mereka akan meninggalkannya.)

Al-Ghamidiyyah pun dibelenggu hingga mati. Lalu Nabi SAW berdiri untuk melakukan solat (jenazah), maka ‘Umar pun berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Anda akan mensolatkan dia sedangkan dia itu penzina?” Nabi SAW bersabda sambil marah, “Celaka kau ‘Umar, ia telah bertaubat dengan taubat yang kalau dibahagi-bahagi kepada 70 orang penduduk Madinah tentu akan mencukupi mereka. Apakah kau pernah melihat taubat yang lebih baik dari mendermakan jiwanya kepada Allah?”

(Kisah ini beserta komentar tambahannya adalah sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Sheikh Amru Khalid di dalam bukunya “Islahul Qulub”.)

Lihatlah betapa hebat dan mantapnya taubat Al-Ghamidiyyah tersebut, tidak berpaling sedikitpun, malah terus-terusan berusaha untuk membersihkan dirinya. Allahuakbar...

Teman, fitrah manusia itu sangat-sangat mahu kepada kebaikan. Berlarilah sejauh mana pun bersama kejahatan, kau pasti tetap akan tiba di garis permulaan tempat kau mula menapaki pelarian. Erti kehidupan itu teman, terletak pada satu tujuan. Dan tujuan itu tidak pernah berbeda dari saat kau dilahirkan hingga menginjak dewasa. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (2:207)

Seperti kerasnya buluh, ia masih bisa dibuat bina jambatan atau rakit, menopang kukuh struktur bangunan dan paling terpopular, buat diguna di hari lebaran mengisi beras pulut dan santan dalam balutan daun pisang – iya, namanya lemang. Asal tahu tujuan, InshaAllah bisa teradaptasi menuju destinasi – mencari redha Illahi. Dan teman, biarpun hidayah itu milik Tuhan, jangan pernah lelah berusaha memiliknya jua. Sungguh, belum pernah terlambat untuk bertaubat, biar ditinggal berapa jauh pun kerana bukan masa yang menjadi hitungan, amal yang diredhai jualah menjadi pergantungan. Biar - sedikit mana pun, teman.

Justeru teman, beritahu padaku, benar payahkah melentur setelah rebung keras menjadi buluh?

Entah.

Lenturlah berkali-kali, InshaAllah kan bisa lebih lembut dari rebung nanti.



Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Ali 'Imran:134)

"Jangan pernah berubah kerana orang, takut nanti bila kau sudah bosan dengan perubahan itu, kau akan kembali kepada dirimu yang dahulu. Biarlah perubahan itu datang dari hati. Hati yang telah dibersihkan."

Wallahua'lam.



Dalam sela-sela tawa, aku mengharap hadirnya basah mata,

Sunday, April 04, 2010

Escapade: Sudak II - Mencari Jalan keluar

(Sungguh, alam telah meyakinkan)

Saya jarang menulis tentang kembara. Semuanya saya simpan sendiri. Bukan apa, bila sudah pulang, rasa penat, kemudian terus lupa mahu tulis dan catat di sini. Dan, rasa tidak seronok lagi kerana bila simpan lama-lama sudah tidak sesegar saat baru pulang tadi. Tetapi, atas permintaan cikgu aklcitizen dan tiba-tiba saya pun rasa seperti hendak berkongsi keindahan alam yang saya lihat; maka, terimalah!



Suatu hari, tiba-tiba rasa mahu keluar dari Simferopol tempat kami belajar. (Negeri-negeri di Crimea ini hampir semuanya pernah terkena sentuhan pemerintahan empayar Uthmaniah, justeru kalau tidak sedikit pasti banyak tinggalan sejarah yang terkait dengannya) Terus, esok pagi bergerak ke stesen bas, naik bas ke Sudak dan tunggu bas bergerak. Perjalanan memakan masa hampir dua jam. Kami bertiga duduk asing-asing, kerana masing-masing mahu menikmati pemandangan dari tingkap bas. Di sebelah saya duduk seorang wanita dalam lingkungan awal 20-an. Kami main tarik-tarik langsir. Saya mahu melihat pemandangan luar, dia mahu menutup pula kerana cahaya matahari terik tumpah terus ke wajahnya. Perlukah saya rasa kasihan? Kerana saya lebih terkena hangat simbahan mentari tersebut. Akhirnya saya beralah, pasang mp3 dan terlena seketika. Bila terjaga, matahari sudah terlindung di balik awan, saya buka semula langsir dan dia tidak membantah. Ladang gandum yang keperang-perangan terbentang luas. Saya jadi teringat pada sawah padi di kampung – hijau dan nyaman.

Bas tiba di Perhentian Sudak. Angin sejuk menerpa kuat. Lupa bawa pakaian tebal, harap-harap mentari terik di perbukitan nanti. Seorang pak cik pertengahan umur datang memberi perkhidmatan teksi untuk ke Noviy Sviet – 7km dari Sudak - destinasi utama kami. Seorang bayar 20 Grivnia, bermakna 60 Grivnia semuanya untuk tiga orang. Mahal. Terima kasih sahajalah. Tetapi pak cik terus mendesak. Kami meminta kurangkan harga. Dia tidak mahu. Sekian. Rela menunggu bas dalam kesejukan seketika. Bas tiba 30 minit kemudian, dengan tambang hanya 2.50 Grivnia kami dibawa ke Novi Sviet melalui pekan kecil, kemudian masuk kawasan perbukitan. Jalan di sini sempit, tinggi, curam dan berbengkang-bengkok. Seperti menuju Cameron Highland, cuma bezanya pemandangan sekitar tidak diliputi hutan hujan tropika menghijau dan bunyi cengkerik yang bersahutan, tetapi dari atas tebing tinggi ini boleh terus nampak Laut Hitam terbentang luas berkilau-kilau dipanah mentari seperti himpunan mutiara dalam tadahan dua tapak tangan. Wah, hiperbolanya. Oh, oh, destinasi tujuan hampir tiba!

Kami pernah ke sini, tiga tahun dahulu bersama teman-teman yang dahulu belum bersuami dan berkeluarga. Alahai, kenangan. Indah andai masa dapat diputar kembali. Kenapalah tiada orang yang berjaya cipta mesin masa? Baiklah, soalan mengarut. Kehidupan adalah suatu kitaran terus-menerus, “Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur". (3:190)

Kembali seketika ke tiga tahun yang lampau, kami berlapan ketika itu bersama-sama mendaki bukit, menuruni lurah sejauh hampir 3 km sehingga tiba di atas sebuah tanjung yang menganjur ke Laut Hitam. Berhenti rehat, makan perbekalan yang dibawa; nasi putih dan serunding penghabisan stok. Kemudian, sudah tidak tahu hendak ke mana, mengambil keputusan berpatah balik ke tempat asal di mana kami bermula. Penat, tahu! Sayangnya bila dapat tahu, laluan keluar hanya beberapa meter lagi di hadapan dan terlepas pula melalui taman dengan tanaman-tanaman pohon yang aneh. InsyaAllah, ekspedisi kali ini akan kami cari jalan keluar tersebut dan habisi eksplorasi bersama teman-teman tiga tahun dahulu! Wah, hari ini penuh semangat, sepuluh tahun nanti bila terbaca kembali, pasti akan tertawa. Seluruhnya, biarlah gambar yang berbicara;


Kami tidak naik bas ini...


Dari atas laluan tebing: bukit itu bakal kami daki.


Tapak permulaan pendakian.


Peta laluan pendakian.


Sebahagian dari Laut Hitam: pemandangan terindah, subhanallah.


Laluan pendakian yang telah dipermudahkan.


Rasa mahu terjun!


Kadang-kadang ombak berdesir menghempas batuan.


Laluan turun masuk ke dalam gua.


Terus melangkah...


Turun bukit...


Naik bukit...


Pelikkan pokok ini. Rasanya kerana sering ditiup angin sebelah arah sahaja.


Dua sahabat se-ekspedisi; merakam setiap sudut bumi Tuhan dengan lensa kamera.


Tanjung tersebut!


Di atas tanjung: Hai...lah Camar, turun kau ke sini!


Di sini, tiga tahun dahulu; nasi putih dan serunding, ahaks!


Yah, telah kutemui jalan pulang!


Taman dengan pohon aneh; khabarnya ada rusa tetapi tidak kelihatan pun.


Subhanaka Rabbi...


Entah apa namanya pohon ini tetapi rupa seperti pokok dalam kartun Pocahontas


Bagaimana ia bisa tumbuh begitu rupa?


Sakura berkembang mekar...


Inilah jalan keluar tersebut, ahaks!

Wah, wah, wah! Entri ini panjang dengan gambar sahaja. Ya, ampuuunnn!! Apa pun, syukur kepada Tuhan atas nikmat rezeki, kelapangan dan kesihatan. InsyaAllah, andai bisa berkunjung ke sini lagi, tidak akan kulepas peluang tersebut; akan duduk lama-lama, puas-puas tadabbur alam Tuhan. Ekspedisi kali ini agak terkejar-terkejar kerana mahu pulang cepat, takut tertinggal bas yang sudah ditempah tiketnya. Teman, sungguh kenangan itu indah.

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim: 34)


Kalian bagaimana? Sudah ketemu jalan keluar? ^^

Saturday, April 03, 2010

Camar




Camar

Camar,
pinjamkan aku seketika - sepasang kepakmu,
agar bisa kubawa terbang,
jiwa yang hina ini,
belajar mengerti alam,
melalui mata hati.

Camar,
turun nanti ceritakan padaku,
tentang bisikan tahmid pohon dan gunung;
juga lantunan tasbih angin dan samudera,
yang terus-terus pada Rabbi.
Agar bisa kuhitung zikirku sendiri,
yang tak pernahnya mencukupi.

Camar,
sungguh aku cemburu,
padamu yang bisa terbang - tinggi dan jauh;
sedang aku, berjalan di tanah pun,
sering terjatuh.

Camar,
Maha Suci Dia (yang menciptakan),
kau dan aku.

Balqis,
Ekspidisi Jelajah Sudak II,
(mencari jalan keluar)
2 April 2010


Cuaca cerah, setting kamera yang salah? Entah.

Awards...

(Lama sudah tidak mengepos entri penerimaan award - rasa janggal)

Adat mengerat silaturrahim; bertandang ke rumah saudara membawa buah tangan, berziarah blog rakan membawa award. Ahaks. Juga sebagai memenuhi permintaan rakan blogger yang baru - aMuslimHouse. Salam kenal. Terima kasih.


Award satu:




Award kedua:



Award tidak dipanjangkan. Bukan kerana kedekut. Eheh. Andai terbaca dan mahu ambil dan tampal. Sila-sila. ^^